Bima
Bima

 KABUPATEN BIMA

logo

 PROFILE DAN SAMBUTAN PEJABAT PEMERINTAH

  1. Bupati
  2. Kepala Dinas Pariwisata
  3. Sambutan PIDII
  4. Ketua Umum ASITA

Bupati Kabupaten Bima

bupatiHj. Indah Dhamayanti Putri 

 

Assalamualaikum, Wr. Wb.

Kabupaten Bima di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagian besar merupakan morfologi perbukitan dan pegunungan, dengan 2 gunung berapi yaitu Gunung Tambora dan Gunung Sangiang. Kabupaten ini juga memiliki berbagai obyek wisata yang sangat mempesonayang belum tersentuh oleh aroma pembangunan. Oleh karena itu, pembangunan regional di Sektor Pariwisata merupakan kebutuhan pokok Kabupaten Bima saat ini.

Dalam mendukung suksesnya pembangunan Sektor Pariwisata, salah satu instrumen yang dibutuhkan adalah terbukanya iklim investasi baik dari dalam maupun dari luar negeri dengan memanfaatkan data yang akurat, tepat waktu, secara berkesinambungan dan efektif, sehingga sasaran yang diharapkan dapat dicapai secara maksimal dan optimal.

Diharapkan penerbitan buku yang berjudul “Panduan Wisata Kabupaten Bima” ini mampu menarik minat para pelancong dan Investor dalam upaya mendukung program pembangunan Sektor Pariwisata di Kabupaten Bima sehingga wilayah ini menjadi semakin maju sejajar dengan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia, sekaligus sebagai salah satu upaya dalam mensejahterakan masyarakat Kabupaten Bima.

Terima kasih kepada semua pihak yang membantu mempublikasikan potensi pariwisata dan peluang investasinya di Kabupaten Bima ini. Harapan saya, semoga buku ini bermanfaat dan meningkatkan ketertarikan para wisatawan dan sekaligus para pemilik modal untuk berkunjung dan berinvestasi di Sektor Pariwisata Kabupaten Bima.

Billaahi Taufiq wal Hidayah, Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wa barakatuh !

Kadis Pariwisata Kab. Bima

kadis pariwisata bimaDrs. Dahlan H. Muhammad 

 

SAMBUTAN KEPALA DINAS PARIWISATA KABUPATEN BIMA

Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan ijin Nya, akhirnya penyusunan Buku Panduan Pariwisata Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2018 dapat kami selesaikan dengan baik.

Buku ini memberikan gambaran umum terhadap obyek, tujuan, kondisi dan potensi kepariwisataan Kabupaten Bima, ditinjau dari sisi letak geografisnya maupun potensi alam yang membutuhkan penataan dan pengembangan ke depan.

Sektor Kepariwisataan dengan banyaknya lokasi tujuan wisata akan cukup menarik perhatian para wisatawan untuk berkunjung, yang pada gilirannya akan menarik minat para investor guna berpartisipasi dalam pengembangan potensi wisata di Kabupaten ini.

Terima kasih kepada semua pihak dan seluruh jajaran Dinas Pariwisata Kabupaten Bima yang telah berpartisipasi dalam mewujudkan pelaksanaan penyusunan “Buku Panduan Wisata Kabupaten Bima” Tahun 2018 ini. Terima kasih juga kami sampaikan atas kerjasama dengan Pusat Informasi Data Investasi Indonesia (PIDII) dalam menyusun, menerbitkan dan mendistribusi buku ini. Semoga bermanfaat untuk semuanya !!

Billaahi Taufiq wal Hidayah, Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wa barakatuh ! Travel Guide to Bima Regency 3

Director of PIDII

Agus Suryadi Agus Suryadi

 

SAMBUTAN PIDII
Pariwisata di Indonesia merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi besar untuk mendukung roda perekonomian pemerintah daerah maupun pusat. Berbagai lokasi wisata dengan beragam budaya yang melekat dapat ditemukan di sepanjang wilayah Bumi Pertiwi.

Hal inilah yang menjadi kekuatan bagi pengembangan pariwisata di Indonesia hingga saat ini. Sektor pariwisata tumbuh begitu pesat sehingga pemerintahan Jokowi - JK berani memproyeksikan sektor pariwisata akan menjadi penyumbang devisa terbesar pada 2019.

Diawali dari sebuah kesadaran akan kebutuhan yang besar terhadap informasi industry pariwisata yang lengkap dan mampu mengintegrasikan seluruh kegiatan pariwisata serta dapat memberikan berbagai pelayanan informasi untuk para turis, tamu yang berkunjung dan juga masyarakat pada umumnya, Dinas Pariwisata Kabupaten Bima bekerjasama dengan Pusat Informasi Data Investasi Indonesia (PIDII) dan PT. Qayris Cipta Kreasindo serta didukung oleh Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), memprakarsai pembuatan Travel Guide to Bima Regency, yaitu Panduan Wisata Kabupaten Bima yang dikemas dalam bentuk buku, disajikan dalam dua bahasa (Indonesia – Inggris).

Buku ini mencoba untuk mengungkap secara lengkap tentang potensi obyek wisata di Kabupaten Bima, dengan segala keindahan yang mempesona yang dimilikinya. Disamping itu juga memberikan petunjuk tentang akses menuju ke lokasi, sarana dan prasarana yang tersedia, keunggulan dari masing-masing obyek wisata dan kuliner yang tersedia.

Harapan kami, semoga penerbitan buku Travel Guide to Bima Regency ini dapat meningkatkan pelayanan informasi pemerintah Kabupaten Bima kepada berbagai kalangan yang membutuhkan informasi, baik untuk masyarakat Kabupaten Bima maupun wisatawan dan tamu yang datang ke Kabupaten Bima dengan berbagai kepentingan.

Pusat Informasi Data Investasi Indonesia
AGUS SURYADI
Director of PIDII

 Ketua Umum Asitaketua asita

H. Asnawi Bahar, S.E., M.Si.

   SAMBUTAN KETUA UMUM ASSOCIATION OF THE INDONESIAN TOURS AND TRAVEL AGENCIES (ASITA)

Pesona Indonesia... Wonderfull Indonesia...

Sebagai pengantar, Data terakhir dari Biro Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pariwisata disampaikan bahwa sektor pariwsata merupakan penyumang DEVISA terbesar nomor 2 setelah Kelapa Sawit. Indonesia juga merupakan salah satu negara dari 20 negara yang memiliki pertumbuhan paling cepat di sektor pariwisata. Pertumbuhan pariwisata Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mencapai 25,68%.

Pemerintah saat ini sedang melakukan inovasi dan motivasi untuk menggenjot sektor pariwisata secara masif dan komprehensif, ini merupakan kebangkitan sektor pariwisata Indonesia yang memiliki peringkat dalam meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia yang tadinya menduduki posisi ranking 50 naik menjadi ranking 42 dunia. Sektor pariwisata kini menjadi primadona baru bagi pembangunan nasional. Sumbangan devisa maupun penyerapan tenaga kerja dalam sektor ini amat signifikan bagi devisa negara, diperkirakan pada tahun 2019, sektor pariwisata menjadi penyumbang utama devisa utama Indonesia.

Dengan hasil yang dicapai sektor pariwisata aat ini Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), mengapresiasi pencapaian ini dengan menyambut baik diterbitkannya buku Travel Guide to Bima Regency oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Bima bekerjasama dengan PT. Qayris Cipta Kreasindo dan Pusat Informasi Data Investasi Indonesia (PIDII), yang merupakan salah satu langkah maju pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan informasi kepada para wisatawan mancanegara maupun domestik yang datang ke Kabupaten Bima.

Akhir kata kami ucapkan selamat dan sukses, semoga inisiatif ini berdampak pada meningkatnya arus kunjungan wisatawan baik lokal maupun asing ke Kabupaten Bima. Demikian disampaikan, atas segala perhatian dan dukungan baik instansi pemerintah maupun stekholder di bidang pariwisata diucapkan terima kasih.

 GAMBARAN UMUM

Letak, Luas dan Batas Wilayah

Kabupaten Bima terletak di ujung timur dari Provinsi Nusa Tenggara Barat pada posisi geografis 118°44”-119°22” Bujur Timur dan 08°08”- 08°57 Lintang Selatan. Batas-batas wilayahnya: Laut Flores di Utara; Samudera Indonesia di Selatan; Kabupaten Dompu di Barat; dan Selat Sape di Timur. Kabupaten Bima terdiri dari 18 Kecamatan, yaitu: Kecamatan Ambalawi, Belo, Bolo, Donggo, Lambitu, Lambu, Langgudu, Madapangga, Monta, Palibelo, Parado, Sanggar, Sape, Soromandi, Tambora, Wawo, Wera dan Woha. Luas wilayah keseluruhan adalah 438.940 Ha atau 4.389,40 Km².

Topografi

Secara topografis wilayah Kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan morfologi perbukitan dan pegunungan sementara sisanya (30%) adalah dataran, berada pada ketinggian antara 0 sampai 477,50 m di atas permukaan laut. Lima gunung yang ada di wilayah ini adalah Gunung Tambora di Kecamatan Tambora; Gunung Sangiang di Kecamatan Wera; Gunung Maria di Kecamatan Wawo; Gunung Lambitu di Kecamatan Lambitu; dan Gunung Soromandi di Kecamatan Donggo, merupakan gunung tertinggi di wilayah ini (4.775 m).

Iklim Dan Cuaca

Wilayah Kabupaten Bima beriklim tropis dengan rata-rata suhu udara mencapai 26,300 dan 28,400C; kelembaban udara antara 79 dan 90%; tekanan udara antara 1008,90 dan 1014,70 mb; kecepatan angin antara 0 dan 3 knot; penyinaran matahari antara 37 dan 86%. Curah hujan rata-rata antara 39 mm3 (Agustus) dan 263 mm3 (September); dengan hari hujan antara 6 dan 24 hari.

Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Bima (2017) mencapai 478.967 orang dengan 238.515 lakilaki dan 240.452 wanita (rasio: 0,99); Kepadatan rata-rata 109 orang/Km². Bukti-bukti sejarah purbakala yang ditemukan di Kabupaten Bima seperti Wadu Pa’a, Wadu Nocu, Wadu Tunti (batu bertulis) di Dusun Padende Kecamatan Donggo menunjukkan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia. Penduduk yang mendiami daerah Kabupaten Bima menyebut dirinya Dou Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan pesisir pantai. Disamping penduduk asli, juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Agama

Sebagian besar penduduk Kabupaten Bima beragama Islam (497.417 orang); disusul kemudian 1.921 orang Katholik; 238 orang Protestan; 225 orang Hindu; dan 22 orang Budha.

Seni dan Budaya

Bahasa yang digunakan suku Bima adalah Bahasa Bima atau Nggahi Mbojo. Bahasa ini terdiri atas berbagai dialek, yaitu dialek Bima, Bima Dongo dan Sangiang. Bahasa yang mereka pakai ini termasuk rumpun Bahasa Melayu Polinesia. Berbagai seni yang menarik dapat dijumpai di Kabupaten ini antara lain: Tari Wura Bongi Monca, Sagele, Taji Tuta, Gantao dan Putu Sila, Mpa’a Manca, B’uja Ka’danda, Kareku andei, Hanta Ua Pua, Kalondo Wei dan Kapanca, Kiri Loko, dll.

 KUNJUNGAN WISATAWAN

Jumlah Kunjungan Wisatawan Menurut Jenis Wisatawan dan Objek Wisata di Kabupaten Bima, 2016 - 2017

table kunjungan

 

Banyaknya Pengunjung Warga Negara Asing yang Berkunjung ke Banyaknya Pengunjung Warga Negara Asing yang Berkunjung keDaerah Bima Menurut Kebangsaan 2016

table pengunjung asing

 

Banyaknya Pengunjung Warga Negara Asing yang Berkunjung keBanyaknya Pengunjung Warga Negara Asing yang Berkunjung keDaerah Bima Menurut Kebangsaan 2016

table kunjungan berdasarkan kebangsaan

OBJEK DAERAH TUJUAN WISATA DI KABUPATEN BIMA

  1. Kawasan Lingkar Tambora dan Sekitarnya
    ( Kecamatan Sanggar dan Tambora )
    Mada Oi Tampuro,Pantai Teluk Sanggar, Pacuan Kuda, Pantai Sandue, Sumur Oi Minca, Pantai Mene Manu’u, Pantai Piong, Pantai So Tengke, Padang Savana Sanggar, Kuburan Rade Na’e Sanggar, Agrowisata Kebun Kopi, Air Terjun Oi Marai, Air Terjun Oi Panihi, Wisata Gunung Tambora, Situs Peradaban Tambora, Pasanggrahan Tambora, Kampung Hutan Madu, Pantai Labuan Kananga, Donggo Jara/Tab’e Na’e (Volkano di luar Kawah), Hutan Cemara.
  2. Kawasan Lingkar Donggo dan Sekitarnya
    ( Kecamatan Mandapangga - Bolo - Donggo dan Soromandi )
    Taman Wisata Alam Madapangga, Air Terjun Oi Taba, Goa Dae Jena, Situs Bekas Candi, Uma Ncuhi (Rumah Adat Mbawa), Tapak Kaki Gajah Mada, Pasanggrahan Donggo, Uma Ncuhi Padende, Wadu Tunti, So Noti (Tanjung Noti), Benteng Asa Kota, Wadu Pa’a.
  3. Kawasan Lingkar Langgudu Bay dan Sekitarnya
    ( Kecamatan Parado, Monta dan Langgudu )
    Pantai Wane, Pantai Woro, Pantai Tanawu -Tolomoro, Pantai Lere, Situs Wadu Wawi, Hutan Wisata Kaleli, Pantai Rontu, Kalate Ndira, Air Terjun Oi Sariwu Tuda Ncua, Teluk Waworada, Bendungan Pela Parado, Mesdjid Kamina, Pantai Temba Ruma, Pantai Wadu Baba Sambane, Nisa (Pulau), Air Terjun Oi Kalo, Air Terjun Kalemba, Pantai Kamandaka.
  4. Kawasan Lingkar Lewamori dan Sekitarnya
    ( Kecamatan Woha, Belo, Palibelo dan Lambitu )
    Air Terjun Kalate Mbaju, Tugu Pelopor Pancasila, Bombo Ncera, Monumen Perang Ngali, Embung Roka, Pacuan Kuda, Pantai Kalaki, Taman Makam Pahlawan, Bombo Ntonggu, Bombo Roi, Sumber Mata Air Kuta, Puncak Duwe Kasipahu, Air Terjun Kaowa, Air Terjun Teta, Kampung Adat Sambori.
  5. Kawasan Lingkar Salawa (Sape-Lambu-Wawo) dan Sekitarnya
    ( Kecamatan Sape, Lambu dan Wawo )
    Pantai Matamboko, Pantai Torowamba, Pantai Lamere, Kawasan Bajo Pulau, Pantai Santigi, Telaga Ana Fari/ Telaga Bidadari, Pulau Gilibanta, Bukit, Telaga dan Spot Pantai Naga Nuri, Wadu Sura dan Supah Parapi, Situs Wadu Kopa Koka, Tabe Bangkolo, Air Terjun Jo Rato, Pantai Papa Lambu, Pulau Kelapa, Bendungan Sumi-Diwu Moro, Pantai Lawoli, Temba Romba, Pantai Lariti (Nisa lampa Jara), Pantai Toro Mbala/Pantai Pink, Toro Maria, Pantai Pasir Terbang (Sarae Mangemo), Air Terjun Sori Kuwu, Pantai Nanga Kala, Pantai So Dau, Pasanggrahan Oi Wobo Wawo, Puncak Doro Maria, Puncak Gunung Sambore/ Palu, Uma Lengge Maria Wawo, Makam Prajurit La Jala, Situs So Jalamba, Air Terjun Tarlawi, Air Terjun Riamau, Air Terjun Sambu, Panorama Ina Hami.
  6. Kawasan Lingkar Sangiang Api dan Sekitarnya
    ( Kecamatan Wera dan Ambalawi )
    Karombo Wera, Gunung Sangiang, Pulau Ular, Air Terjun Oi Nca, Pantai Oi Fanda, Pantai Nanga Raba, Pantai Mawu, Pantai Pasir Putih, Pantai Diwu Mawu, Air Terjun Talapiti, Panorama Bukit Ncai Kapenta.

Kawasan Lingkar Tambora dan Sekitarnya

Kecamatan Sanggar

Taman Wisata Oi Tampuro (Area wisata alam di Desa Piong dengan mata air melimpah sepanjang tahun) ; Pantai Teluk Sanggar (di Desa Kore dengan hamparan pasir putih dan pulau kecil yang berada di dekat pantai); Pacuan Kuda Pantai Sandue (salah satu daya tarik wisata yang merupakan gabungan antara Wisata Alam dan Wisata Budaya); Sumur Oi Monca (obyek Wisata Alam yang sekaligus juga Wisata Religi, terletak di Desa Kore); Pantai Mene Manu’u (di Desa Kore); Pantai Piong (di Desa Bono namun belum ada aktifitas perdagangan dan jasa); Pantai So Tengke (berada di Desa Boro); Padang Savana Sanggar (terletak di Desa Oi Saro yang terbentang luas di sepanjang jalan lingkar Selatan menuju Tambora); Kuburan Raden Na’e (terdapat 6 makam keluarga Kerajaan Sanggar); Situs Godo Ruma (situs sejarah yang berada di Desa Boro).

Kecamatan Tambora

Agrowisata Kebun Kopi Desa Oi Bur (dengan produk unggulan yang sangat terkenal yaitu Kopi Tambora Readstone, Kopi Bubuk Tambora, dll.); Air Terjun Sori Oi Marai (di Sungai Oi Marai yang memiliki lebar 30 meter dengan debit air yang sangat besar dan air terjun 7 tingkat); Air Terjun Oi Panihi (di Desa Oi Panihi); Wisata Gunung Tambora (ketinggian hanya 2.851 m dpl dengan 3 jalur pendakian); Pesanggrahan Tambora (dibangun tahun 1932 oleh investor kopi dari Swedia di Desa Oi Bura); Situs Peradaban Tambora (di wilayah Oi Bura yang dulunya adalah permukiman penduduk yang sudah maju kebudayaannya sebelum terjadi letusan Tambora 1815); Kampung Hutan Madu (sekeliling kawasan hutan Gunung Tambora adalah penghasil madu); Pantai Labuan Kenanga (di Desa Labuan Kananga); Donggo Jara/Ta’be Nae (Vulkano di Luar Kawah merupakan anak Gunung Tambora dengan keindahan dan kemegahan pemandangannya); Hutan Cemara (pada jalur pendakian Gunung Tambora yaitu di Pos 4).

Kawasan Donggo dan Sekitarnya

Kawasan ini meliputi Kecamatan Mandapangga, Bolo, Donggo dan Soromandi. ODTW yang dimiliki:

Kecamatan Madapangga

Taman Wisata Alam Madapangga (kawasan konservasi di Desa Ndano); Air Terjun Oi Taba (di Desa Campa); Goa Dae Jena (di Desa Mpuri).

Kecamatan Donggo

Uma Ncuhi (Rumah Adat di Desa Mbawa); Pesanggrahan Donggo (di Desa O’o dengan kondisi yang cukup kokoh namun kurang terawat dengan baik); Tapak Kaki Patih Gajah Mada (di Desa Bumi Pajo, tepatnya di Wadu Nocu); Uma Ncuhi Padende (di Desa Bumi Pajo); Wadu Tunti (di Dusun Ncuhi Donggo, Desa Padende, di sebelah Utara dataran tinggi Gunung Rora).

Kecamatan Soromandi

So Noti atau Tanjung Noti (di Desa Punti dengan pemandangan ke Teluk Bima yang luar biasa indah); Benteng Asa Kota (di Desa Punti, dibangun pada 1674 M); Wadu Pa’a (berlokasi Desa Kananta).

Kecamatan Bolo

Situs Bekas Candi (di Desa Monggo, konon situs ini adalah peninggalan Kerajaan Majapahit); Wadu Genda (di Desa Tambe); Makam Kuno Manuru Nggembe (di Desa Nggembe).

Kawasan Teluk Langgudu dan Sekitarnya

Kecamatan Parado

Pantai Wane (di Desa Parado Wane); Pantai Woro (di Dusun Woro, Desa Parado Wane, masih berada segaris dengan Pantai Wane); Pantai Tanawu – Tolomoro (membentang luas dari Desa Lere Kecamatan Parado sampai ke Pantai Leley Kecamatan Huu di Kabupaten Dompu); Pantai Lere (di Desa Kuta); Wadu Wawi (situs peninggalan Hindhu/Budha); Hutan Wisata Kaleli (hutan produksi tetap Kemiri di Desa Kuta).

Kecamatan Monta

Pantai Rontu (di sebelah Selatan Kabupaten Bima berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia sangat cocok untuk kegiatan berenang, memancing, bersantai, surving dan diving); Kalate Ndira (sebuah sungai yang berada di Desa Sie Kecamatan Monta); Air Terjun Oi Sariwu Tuda Ncua (berbentuk sungai berbatu); Bendungan Pela Parado (di Desa Pela, mengairi area seluas 3.895 ha di Kecamatan Monta, Woha, Belo dan Palibelo, juga mampu menyediakan air baku 200 liter/detik, Pembangkit Tenaga Listrik Mikrohidro 250 KVA dan pengendalian banjir sungai Parado.

Kecamatan Langgundu

Teluk Waworada; Masjid Kamina di Desa Kalodu); Temba Ruma (sumur air tawar di bibir pantai); Pantai Wadu Baba Sambane (di Desa Sambane, sekitar 1 jam perjalanan dari Bandara Sultan M. Salahuddin); Nisa (Pulau) (Pulau-pulau kecil di Teluk Waworade yaitu: Nisa Bea, Nisa Dora, Nisa Lampa Dana, Nisa Sura, Nisa Tengge, Nisa Malai, Nisa Soma, Nisa Mbe’e dan pulau kecil lainnya); Air Terjun Oi Kalo (di Desa Kalodu, dengan ketinggian 15 m, akses yang sangat menantang dan memacu adrenalin); Air Terjun Kalemba (di Dusun Kalemba Desa Kawuwu); Pantai Tamandaka (jauh di ujung Selatan Bima menghadap ke Samudera Indonesia).

Kawasan Lewamori Dan Sekitarnya

Kecamatan Woha

Air Terjun Kalate Mbaju (di Desa Pandai, sekitar 20 menit menggunakan motor dari Bandara Sultan M. Salahuddin); dibangun tahun 1980-an)

Kecamatan Belo

Bombo Cera (di Desa Ncera); Monumen Perang Ngali (di Desa Ngali); Embung Roka (embung yang pertama kali dibangun di Bima berada di Desa Roka);

Kecamatan Palibelo

Pacuan Kuda/Pacoa Jara (budaya asli Bima yang didukung juga dengan banyaknya ternak kuda di daerah Wera, Kore, Tambora dan Parado. Pacoa Jara diadakan 3-4 kali setahun); Pantai Kalaki (pantai yang berlokasi dekat dengan Bandara, yaitu hanya sekitar 5 menit dengan aneka-ragam atraksi antara lain pasir putih, perairan laut yang tenang, panorama alam pegunungan di sekitarnya. Pantai ini sering digunakan sebagai ajang kegiatan kepariwisataan, misalnya: lomba perahu dayung, lomba renang dan aneka hiburan laut (banana boat, jetsky, wind-surving dll.); Taman Makam Pahlawan (di Desa Belo yang dibuat tahun 1987, dengan 37 makam Pahlawan); Bombo Ntonggu; Bombo Roi (di Desa Roi dengan beberapa air terjun bertingkat, salah satunya bertingkat 6, sangat indah dan eksotik);

Kecamatan Lambitu

Sumber Mata Air Kuta (di Desa Kuta dengan ketinggian 500-700 m dpl, tertinggi di Kabupaten Bima); Puncak Duwe Kasipahu (puncak tertinggi di Kabupaten Bima, berjarak 18 km dari ibukota Kecamatan Lambitu); Air Terjun Kaowa (di Desa Kaowa merupakan salah satu air terjun terbaik yang dimiliki Kabupaten Bima): Air Terjun Teta (di Desa Teta dengan ketinggian 8 m); Kampung Adat Sambori (desa tradisional yang masih menjunjung tinggi nilai dan peradaban. Berada pada ketinggian 800 m dpl di puncak Gunung Lambitu yang dihuni keturunan Ncuhi Tuki dan Ncuhi Nde, masyarakat duo asli mbojo).

Kawasan Salawa (Sape-Lambu-Wawo)

Kecamatan Sape

Pantai Mata Mboko (di Desa Lamere); Pantai Torowamba (di Desa Poja); Pantai Lamere (di Desa Lamere, diapit oleh Tanjung Toro Si’I dan Toro Mata Mboko); Kawasan Bajo Pulau (pulau yang dihuni leh Suku Bajo, menyimpan pesona alam yaitu Pantai Santigi, Pantai Nisa Na’e dan Telaga Bidadari, sarang burung walet dan hamparan pasir putih yang elok); Pantai Santigi (jenis destinasi wisata dengan multi pemandangan yang disajikan sangat beragam); Telaga Ana Fari (sarang walet dan Telaga Ana Fari yang berada di dalam Goa Karombo Sobu di tengah pulau); Pulau Gilibanta (pulau seluas 40.500 ha dan tidak berpenghuni ini seluruhnya tersusun atas batuan vulkanik sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Bima; Bukit, Telaga dan Spot Pantai Nanga Nur (di sebelah Utara Kampung Bajo Sarae Desa Bugis); Wadu Sura dan Sumpah Parapi (terletak 3 km dari pusat kota Kecamatan Sape, di dalam hutan dengan jalan setapak); Situs Wadu Kopa Koka; Tabe Bangkolo (situs batu berbentuk wajan menghadap ke atas, berada di gugusan pegunungan an lembah Desa Jia); Air Terjun Jo Rato (di Desa Sari).

Kecamatan Lambu

Pantai Papa-Lambu (berada di sepanjang jalan aspal antara Sumi ke Lambu); Pulau Kelapa (berada di Selat Sape dengan luas 5.850 ha yang sebagian besar berupa padang savanna); Bendungan Sumi- Diwu Moro (dibangun tahun 2000 dengan luas areal genangan mencapai 50 ha dengan memanfaatkan 3 aliran sungai); Pantai Lawoli (di Dusun Bako Desa Sumi, terdapat 7 karang besar yang menjulang tinggi di pantai, lokasi ini cocok untuk wisata adventure off road, climbing, snorkeling dan surving); Temba Romba (situs purba peninggalan para mubaligh.Di kawasan Temba Romba sering dilaksanakan do’a dengan memotong “Sahe Bulangkalu” (kerbau belang), dihadiri masyarakat setempat dipimpin oleh Lebe Na’e Sumi dan dipayungi dengan Paju Monca serta peragaan silat diiringi “Genda ra No”); Pantai La Riti (Nisa Lampa Jara) (di Desa Soro yang jika airnya surut akan nampak bentangan pasir putih yang muncul seperti membelah lautan); Pantai Toro Mbala/Pantai Pink (pantai unik berpasir kemerah-merahan dan halus); Toro Maria (disebut juga Tanjung Meriam, lokasinya dalam satu jalur dengan Pantai Pink); Pantai Pasir Terbang atau Sarae Mangemo (ketika angin pasang datang, pasir akan beterbangan bersamaan dengan mpori marai, suara deburan ombak pantai dan pemandangan yang indah menambah pesona pantai ini); Air Terjun Sori Kuwu (kawasan berjarak 1 km dari pemukiman warga Desa Simpasai); Pantai Nanga Kala (sekitar 5 km dari ibukota Kecamatan Lambu); Pantai So Dau (memiliki garis pantai yang panjang, air laut yang jernih, terumbu karang yang terpisah dengan pasir dan bebatuan arang yang sangat merangsang para pencinta snorkeling).

Kecamatan Wawo

Pasanggrahan Oi Wobo Wawo (di Desa Maria dengan fasilitas pendukung listrik, air bersih dan penginapan telah tersedia); Puncak Doro Maria (jalan kaki selama 2 jam dari pusat ibukota Kecamatan Wawo melewati jalan arteri penghubung Kota Bima dan Kabupaten Bima wilayah Timur); Puncak Gunung Sambore/Palu (memiliki pemandangan alam yang indah dan sejarah); Uma Lengge Maria Wawo (kawasan rumah tradisional Bima yang ada di Desa Maria, sebanyak 12 uma lengge dengan 102 lumbung, sisanya berbentuk uma jompa); Makam Prajurit La Jala (sekitar 15 menit dari ibukota Kecamatan); Situs So Jalamba (di dataran tinggi Kecamatan Wawo dengan sebaran sarkofagus atau disebut Wadu Nocu); Air Terjun Tarlawi (di Desa Tarlawi yang sudah dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat, memiliki air yang sangat jernih, sejuk dan unik); Air Terjun Riamau (di Desa Riamau, cukup terpencil dengan ketinggian 700 m dpl dengan suasana yang asri, tenang dan sejuk); Air Terjun Sambu (di Desa Maria, merupakan air terjun tertinggi di Bima dengan lokasi tersembunyi); Panorama Ina Hami (berada di Desa Ntori berbatasan langsung dengan Kota Bima, Ina Hami adalah area puncak yang sejuk dan langsung bisa memandang ke arah Pantai Ama Hami di Kota Bima).

Kawasan Sangiang Api dan Sekitarnya

Kecamatan Wera

Karombo Wera (Goa di Desa Oi Tui dengan letak yang sangat strategis yaitu pintu masuk goa berhadapan langsung dengan Gunung Sangiang); Gunung Sangiang (adalah gunung berapi aktif bertipe strato dalam kawasan konservasi, dengan ketinggian 1986 m dpl yang memiliki pemandangan mempesona); Pulau Ular (pulau unik sekitar 400-500 m dari daratan, dihuni oleh ular-ular jinak dengan kilauan warna hitam putih cerah ini sangat dilindungi oleh masyarakat karena adanya kepercayaan setempat); Air Terjun Oi Nca (di Desa Ntoke dengan waktu tempuh berjalan kaki selama 1,5 jam dari Desa dengan akses jalan yang sangat ekstrim);

Kecamatan Ambalawi

Pantai Oi Fanda (sekitar 30 menit dari ibukota Kecamatan, sedikit masuk ke dalam dengan jalan yang kurang nyaman sehingga jarang dikunjungi padahal kebersihan dan keindahan pasir hitam-putihnya sangat mempesona); Pantai Nanga Raba (sekitar 3 jam dari Kota Bima dengan pesona pasir putih dan barisan pohon kelapa); Pantai Wawu (terbentang sepanjang jalur Ambalawi-Wera); Pantai Pasir Putih (di ujung Utara Desa Nangaraba aman untuk berenang); Pantai Diwu Mawu (di Desa Mawu dengan akses jalan yang cukup baik); Air Terjun Talapiti (sekitar 2 jam perjalanan dari Desa Talapiti dengan berjalan kaki); Panorama Bukit Ncai Kapenta (30 menit dari pusat Kota Bima, sepanjang sisi Ncai Kapenta pada saat musim tanam akan terlihat para petani sedang menanam benih padi lading mereka dan jika beruntung sayup-sayup akan terdengar suara gambo dan rawa Mbojo yaitu kesenian khas Bima yang sedang mengiringi mereka yang menanam padi, disebut Sagele).

WISATA BUDAYA

WISATA BUDAYA
Tari Wura Bongi Monca (Tarian Selamat Datang atau dalam bahasa Bima dikenal dengan Tarian Wura Bongi Monca. Bongi Monca adalah beras kuning. Tarian ini biasanya digelar pada acara-acara penyambutan tamu baik secara formal maupun informal. Tarian ini dimainkan oleh 4 sampai 6 remaja putri dalam alunan gerakan yang lemah lembut disertai senyuman sambil menabur beras kuning ke arah tamu, dalam falsafah masyarakat Bima tamu adalah raja dan dapat membawa rezeki bagi rakyat dan negeri); Sagele (tradisi menanam padi yang diiringi music dan nyanyian tradisional yang tetap dilestarikan terutama di Kecamatan Wera dan Ambalawi); Taji Tuta (kesenian khas masyarakat Wawo yang dimainkan di setiap pesta dan ritual adat dengan cara saling membenturkan kepala antara satu dengan lainnya, diiringi musik khas Bima lewat tabuhan gendang dan tiupan “Silu” yaitu semacam terompet terbuat dari daun lontar); Gantao dan Putu Sila: Jenis tarian ini berasal dari Sulawesi Selatan dengan nama asli Kuntao, di Bima diberi nama Gantao.

Atraksi seni yang mirip pencak silat ini berkembang pesat sejak abad ke-16 Masehi, hingga saat ini Gantao masih tetap lestari di tengah-tengah masyarakat Bima dan selalu digelar pada acara sunatan maupun perkawinan); Mpa’a Manca (atraksi permainan pedang dan seni bela diri pencak-silat, umumnya selalu ditampilkan pada prosesi sunatan); B’uja Ka’danda (tarian tradisional yang menggambarkan dua orang prajurit sedang berperang bersenjatakan tombak berumbai bulu ekor kuda yang disebut Buja Kadanda dan perisai); Kareku Kandei: atraksi memukul lesung dengan berbagai irama dan ritme yang biasanya dimainkan oleh kaum wanita Bima, lesung dan alu terbuat dari (biasanya) kayu nangka); Hanta Ua Pua (menyaksikan proses Hanta Ua Pua sama halnya dengan menyaksikan kesaksian diri akan kecintaan terhadap Islam. Sebuah perhelatan tua bersejarah dan penuh nuansa yang mengajarkan tentang makna ”jejak -jejak spiritual” pencarian jati diri yang Islami); Kalondo Wei dan Kapanca (rangkaian unik pada prosesi pernikahan masyarakat Bima, yang dilaksanakan setelah pengantaran mahar.

Upacara Kalondo Dou di Wei adalah upacara pengantaran calon penganten putri dari rumah orang-tuanya menuju ke Uma Uka atau rumah untuk penganten, diantar kerabat yang berpakaian adat dan diiringi atraksi jiki hadra dan rebana. Sedangkan di uma uka diadakan “Ngaji Kapanca” atau tadarusan yang akan berakhir tepat pada waktu calon penganten putri tiba di Uma Uka); Kiri Loko (upacara “nuju bulan” untuk ibu hamil 7 bulan anak pertama); Do’a Dana (do’a bersama dengan masing-masing membawa jajanan aneka rupa, setelah selesai do’a jajanan yang telah dikumpulkan tersebut dibagi kepada anak-anak yang hadir); Kalondo Lopi (penurunan kapal ke laut dilakukan secara gotong-royong oleh masyarakat pesisir di Desa Bugis, Lamere dan Sangiang); Kerajinan Tenun Tembe Nggoli (sarung tenun tangan khas Bima yang dibuat dengan benang khusus yang disebut Kafa Nggoli); Ndiri Biola (kesenian mBojo dengan menggunakan biola mengiringi seorang penyanyi untuk berbagai acara besar); Gambo Mbojo: salah satu jenis alat musik khas Bima bentuknya seperti gitar berdawai tanpa lekukan); Biola Katipu (seni musik yang baru berkembang sekitar tahun 2000, perpaduan antara biola, katipo atau ketipung, gambo atau gambus, gitar bas, daf dan Rawa Mbojo dengan syair bahasa Bima-Dompu); Rimpu Mbojo (busana adat harian tradisional yang berkembang pada masa Kesultanan, sebagai identitas bagi wanita Muslim di Bima); Tembe Donggo (dari Desa Mbawa Kecamatan Donggo, Tembe Compo dibuat secara sambilan oleh para wanita disana sehingga menjadikannya barang langka berharga mahal); Lupe (payung khas Desa Sambori yang dianyam dengan menggunakan daun pandan atau Ro’o Fanda oleh pengrajin dari Donggo Ele yaitu di Desa Kuta, Sambori Kaboro dan Teta); Sadopa (sandal tradisional masyarakat Bima, terbuat dari kayu hutan yang keras, kuat dan tahan lama seperti misalnya kayu Sopa, kayu Impi dan juga kayu Nangka).

WISATA KULINER

KELOMPOK LAUK-PAUK: Palumara (ikan berkuah asam-manis-pedas); Uta Kato Bhasa Tarindi Mangge (seperti pepes ikan tetapi unik rasanya karena diberi pucuk daun asam Jawa); Uta Muju Puru Pela (Daging Rusa masak pedas); Saronco Peke (Asam-Asam Tulang Iga Sapi yang sangat lezat); Kagepe Uta Maju (kuliner khas yang berasal dari lingkungan istana, seperti soto/coto tetapi terbuat dari kaki kerbau, sapi atau kambing, bahkan untuk raja-raja biasanya kaki rusa); Uta Karamba (ikan kecil-kecil yang dijemur selama 2-3 hari dengan bumbu kecap, tomat dan bawang, paling enak dimakan dengan doco/sambal tomat); Londe Puru (Bandeng Bakar yang dimakan dengan nasi dan sambal bawang khas Bima).

KELOMPOK SAYURAN: Uta Mbeca Prongge (masakan dari daun kelor dan okra); dan Uta Mbeca Saronco Wua Parongge (sayur dari buah kelor, labu, okra, kacang panjang dengan air asam).

KELOMPOK MAKANAN PELENGKAP: Jame (sambal uleg asam muda disajikan dengan ikan teri dan ikan bakar); Mangge Mada (gulai jantung pisang); Tota Fo’o (sambal manga cincang yang lezat sekali); Karawiti (terbuat dari kulit kambing/ sapi yang dibubuhi tumbukan kacang, santan, belimbing sayur, jeruk, tomat, bawang merah dan cabai); Tumi Sepi (makanan khas dari udang rebon yang difermentasi menggunakan garam); D’oco Toma (Sambal Tomat; Oi Mangge (semacam sambal untuk pendamping Uta Karamba); Sia Dungga (Sambal Bawang khas Bima); dan Mbohi Dungga (Sambal Fermentasi Jeruk Purut).

MAKANAN KECIL: Minasarua (minuman khas penghangat badan dengan bahan dasar rempahrempah dan tapai ketan serta galendo dan gula merah); Pangaha Range (kue tradisional terbuat dari ketan, kelapa dan gula); Koca dan Kapore (penganan manis dengan taburan parutan kelapa di atasnya); Pangaha Sinci (kudapan dari tepung ketan dan gula merah); Salunga Nggaba (terbuat dari singkong parut dikukus dan dipadukan dengan parutan kelapa); Bingka Dolu (mirip dengan kue lumpur umumnya sebagai pelengkap jangko); Pangaha Khangga (tepung beras dan gula merah yang digoreng menggunakan cetakan khusus dari batok kelapa, proses pembuatannya agak rumit); Pangaha Bunga (kue tradisional favorit masyarakat Bima); Sako-Sako (makanan khas yang disebut “Peli Kai Loko” atau pengganjal perut, terbuat dari beras tumbuk dicampur kelapa dan digoreng tanpa minyak); dan Panganan Khas lainnya (Kue Soko Pipi, Doko-Doko, Karamba Uwi, Kalempe, Kacang Tumbu, Sapu Kaca, Ponte Bojo, Karod’o, Lawatu, Oha Po’o, Oha Mina dan Ua Numpu).

SARANA DAN PRASARANA PARIWISATA

INFORMASI PENTING BERBAGAI FASILITAS

Transportasi

Panjang jalan mencapai Transportasi: Panjang jalan mencapai 1.283,33 km (86,69 km jalan Negara; 365,03km jalan Provinsi; 831,61 km jalan Kabupaten),dengan 518,46 km kondisi baik; 109,63 km kondisi sedang; 164,62 km rusak ringan dan490,63 km rusak berat. Didukung oleh 219 bus umum. 

Bandar Udara: Bandara Sultan Muhammad Bandar Udara: Bandara Sultan Muhammad Salahudin terletak di Jalan Sumbawa, Belo,Palibelo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat dengan Kode IATA: BMU dan Kode ICAO:WADB.. Bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 1.647 meter dengan permukaan aspal dan ketinggian 1 meter di atas permukaan tanah.

Pelabuhan Laut Bima dan Pelabuhan Penyeberangan Sape

TRAVEL & KEBERANGKATAN PESAWAT TERBANG / FLIGHT TRAVEL & DEPARTURE:

  1. LANCAR JAYA TRAVEL , Jl. Sultan Hasanuddin, Telp. (0374) 43737
    Tujuan / Destination (Bima| Mataram| Bali, Denpasar| NTT, Kupang| Makassar)
  2. PAREWA TOURS AND TRAVEL, Jl. Sumbawa No. 9, Telp. (0374) 43440
    Tujuan / Destination (Bima| Mataram| Bali, Denpasar| NTT, Kupang| Makassar)
  3. PT. MANJAYA EXECUTIF TOURS, Jl. Sultan Hasanuddin No. 36, Hp. 085253624111 /
    082353660222 Tujuan / Destination (Bima| Mataram| Bali, Denpasar| NTT, Kupang| Makassar)

KEBERANGKATAN PELAYARAN KAPAL LAUT / DEPARTURE OF SEA SHIP

  1. KM. TILONG KABILA, PT. Pelni | Jl. Ksatrisa No. 2 Raba, Telp. (0374) 42046
    Tujuan / Destination : Bima-Lab. Bajo-Makassar-Baubau-Raha-Kendari-Bima-Kolonedale- Luwuk-Gorontalo-Bitung-Bima-Lembar-Benoa-Denpasar-Surabaya
  2. KM. KALIMUTU, PT. Pelni | Jl. Ksatria No. 2 Raba, Telp. (0374) 42046 
    Tujuan / Destination : Bima-Makassar-Baubau-Wanci-Ambon-Banda-Saumlaki-Tual-Dobo-
    Timika-Agats-Merauke-Bima-Benoa-Denpasar-Surabaya
  3. KM. AWU, PT. Pelni | Jl. Ksatria No. 2 Raba, Telp. (0374) 42046 
    Tujuan / Destination: Bima-Wai Ngapu-Ende-Kupang-Kalabahi-Larantuka-Bima-Benoa- Denpasar-Surabaya-Kumai
  4. KM. WILIS, PT. Pelni | Jl. Ksatria No. 2, Telp. (0374) 42046
    Tujuan / Destination : Bima-Labuan Bajo-Marapokat-Merauke-Makassar-Samarinda-Bima-Benoa-Denpasar-Surabaya 44 Travel Guide to Bima Regency Transportasi.

 

Hotel / Penginapan di Bima

DATA HOTEL

Sentra Kuliner

Sentra Kuliner / Culinary Centre Pusat Jajan/Kuliner Kabupaten Bima berada di Taman Wisata Kalaki Desa Panda Kec. Palibelo dan Obyek Wisata Pantai La Riti Kec. Lambu. Disamping itu ada beberapa tempat di daerah Kabupaten Bima yang menyediakan kulinerkuliner khas Bima : REST. & RUMAH MAKAN (Kabupaten Bima)

  1. Sabar Subur, Palibelo, Kec. Palibelo, Bima, Telp. (0374) 646239
  2. Warung Jawa, Desa Rato, Kec. Bolo,  Bima, Telp. (0374) 
  3. Rahman, Palibelo, Kab. Bima, Telp. (0374) 646239
  4. Rumah Makan Pandaan, Panda, Palibelo, Kab. Bima, Hp. 08123756911
  5. Rumah Makan Cita Rasa, Jl. Lintas Sumbawa, Kec. Woha, Kab. Bima, Telp. (0374)
  6. Rm. Sabua Ade, Palibelo
  7. Kedai Terapung, Bugid, Sape
  8. Rumah Makan Bba, Palibelo
  9. Rumah Makan Taman Wisata Kalaki, Kalaki
  10. Rm. Dua Putri, Tente

Souvenir

Daftar nama usaha souvenir, jenis-jenis souvenir, harga, alamat dan no telpon; Pusat Kerajinan dan Cinderamata Kabupaten Bima berada di Taman Wisata Kalaki Desa Panda Kec. Palibelo dan Obyek Wisata Pantai La Riti Kec. Lambu. Disamping itu ada beberapa tempat di daerah Kabupaten Bima yang menyediakan souvenir khas Bima : Tempat – tempat yang menyediakan barang cinderamata dan souvenir masih terbatas yaitu :

  1. Depan bandara Sultan Salahuddin Bima
  2. Mutmainah : toko kerajinan yang berada di Kota Bima

Telekomunikasi

POS DAN TELEKOMUNIKASI

  1. Kantor Pusat Bima, Jl. Gajahmada,Telp. (0374) 44161
  2. Kantor Telkom, Jl. Sukarno Hatta, Telp. (0374) 44444

Air Bersih

Produksi: 3.097.480,8 m3 air bersih (1.756.481,37 m3 dari sungai; 12.153 m3 dari mata air; dan 1.328.846,43 m3 dari air tanah); Jumlah disalurkan: 1.264.638 m3 kepada 12.449
pelanggan.

Listrik

Daya terpasang: 53.240,00 KW; produksi: 366.378.183,00 KWh; Terjual: 103.742.392,00 KWh kepada 96.732 pelanggan.

Kesehatan

Unit Kesehatan di Kabupaten Bima: 2 Rumah Sakit Umum, 21 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas); 90 Puskesmas Pembantu; 633 Posyandu; 133 Polindes; 25 Apotik. Jumlah Tenaga
Kesehatan: 22 Tenaga Medis; 177 Tenaga Keperawatan; 234 Tenaga Kebidanan; 13 Tenaga Kefarmasian dan 86 Tenaga Kesehatan lainnya. Sedangkan jumlah dokter di Kabupaten ini  tercatat: 14 Dokter Spesialis, 52 Dokter Umum dan 10 Dokter Gigi.

KALENDER KEGIATAN PARIWISATA DI KABUPATEN BIMA

kalender eventkalender event1

Back to top
Go to bottom
iden
200045
TodayToday218
YesterdayYesterday1140
This_WeekThis_Week2613
This_MonthThis_Month23864
All_DaysAll_Days200045

Free Joomla! template by L.THEME