Benteng Kuta Batee

Menurut Almarhum H. Mohammad Said, dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad, kerajaan Trumon didirikan oleh seorang saudagar sekaligus pemuka agama (labai) berasal dari XXV Mukim Aceh Besar dalam abad ke-18.

Dulunya Trumon merupakan salah satu dari sembilan kerajaan besar di Aceh, sejarahnya sebagai sebuah kerajaan yang sangat maju waktu itu. Kemajuannya dalam bidang perdagangan menjalin hubungan dagang dengan kerajaan Barus, kerajaan Singkil, kerajaan Padang.

Kerajaan Trumon dikenal memiliki komoditi unggulan ekspor berupa Lada dan Padi. Bahkan masa kegemilangannya memiliki alat tukar (mata uang) sendiri sebagai bagian dari perkembangannya dalam bidang moneter dan keuangan..

Salah satu artefak peninggalan kerajaan adalah  Benteng Kuta Batee dibangun ketika Kerajaan Trumon dipimpin atau di bawah pemerintahan Teuku Raja Fansuri Alamsyah dikenal dengan sebutan Teuku Raja Batak.

Bangunan dengan ukuran 60 x 60 meter dengan tinggi sekira empat meter.  Sedangkan tebal dindingnya satu meter dengan tiga lapisan. Dinding bagian luar terbuat dari batu bata, kemudian pasir setebal tiga puluh sentimeter dan dinding bagian dalam terbuat dari batu bata tanah liat tersebut dibangun pada 1870 M dan sebagai bahan perekat bangunannya adalah telur ayam, berdasarkan keterangan dari berbagai sumber disebutkan bahwa telur-telur tersebut dikirim dari kepulauan Madagaskar.

Itu semakin membuktikan bahwa, waktu itu sudah terbagun  hubungan diplomatik dengan beberapa negara di luar negeri.

Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan ketika diserang musuh (penjajah), benteng ini juga digunakan sebagai kantor pusat pengendalikan pemerintahan oleh raja. Di dalamnya juga terdapat istana raja dan sebuah gudang tempat menyimpan barang-barang penting milik kerajaan.

Di sekeliling benteng terdapat balai sidang. Balai ini biasanya digunakan untuk kegiatan rapat atau sidang-sidang adat kerajaan yang dipimpin langsung oleh raja. Selain itu juga terdapat rumah sula (penjara). Sula adalah besi-besi yang diruncingkan dan terpancang di tanah sebagai tempat hukuman mati bagi penjahat yang divonis hukuman mati.

Lebih lanjut  H. Mohammad Said, menjelaskan, Kerajaan Trumon didirikan oleh seorang saudagar sekaligus pemuka agama (labai) berasal dari XXV Mukim Aceh Besar dalam abad ke-18.

Ia tidak lain adalah Labai Daffa (Labai Dafna-sebutan Belanda) yang nama aslinya adalah Teuku Djakfar.  Raja ini sebelum mendirikan Kerajaan Trumon dan Singkil, sempat belajar agama Islam di Ujung Serangga, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya sehingga meraih gelar labai atau teungku, panggilan ulama dalam masyarakat Aceh.

Kegemilangan tempo doelo sangat bertolak belakang dengan kondisi kekinian. Trumon tidak lagi mengalami masa kejayaanya namun terus merosot dalam berbagai aspek pembangunan, predikat sebagai daerah tertinggal dan khusus bahkan beberapa gampong masih terisolir.

Belum lagi penguasaan lahan akan menjadi endapan masalah besar pada masa yang akan datang, sarana dan prasarana pembangunan yang masih minim, Aksesibilitas dan berbagai persoalan sosial masyarakat lainnya yang masih sangat jauh dari harapan. Kemukiman Buloh Seuma menjadi contoh bagian dari ulebalang kerajaan trumon tempo doelo, sampai dengan saat ini sendu dalam waktu. []

Back to top
Go to bottom
iden
201664
TodayToday408
YesterdayYesterday1429
This_WeekThis_Week4232
This_MonthThis_Month25483
All_DaysAll_Days201664

Free Joomla! template by L.THEME