idarenfrdehihujaru

Tourism

BI: Tahan Kontraksi Ekonomi, DKI Perlu Investasi

Pejalan kaki berjalan di pedestrian kawasan Dukuh Atas Jakarta, Kamis (30/7/2020). ANTARAFOTO/Wahyu Putro
Hits: 5

JAKARTA – Bank Indonesia DKI Jakarta menyebut, Ibu Kota butuh stimulus untuk membangkitkan kembali perekonomian yang sempat terpuruk akibat pandemi. Salah satu faktor yang dinilai penting adalah menggairahkan kembali investasi.

“Agar ekonomi Ibukota tidak anjlok lebih dalam, Pemprov DKI Jakarta perlu terus meningkatkan investasi melalui kegiatan promosi guna menarik dan meyakinkan investor untuk berinvestasi di berbagai proyek potensial di Jakarta," ucap Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Hamid Ponco Wibowo dalam keterangannya, Rabu (14/10).

Hamid melanjutkan, pada kuartal II 2020 kemarin, kontraksi ekonomi lebih dalam bisa ditahan karena adanya investasi yang berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Jakarta. Kala itu, nilainya mencapai Rp30,1 triliun, tertinggi secara nasional.

Dukungan kegiatan investasi di ibu kota juga perlu diberikan Pemda DKI melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkan. Antara lain kemudahan perizinan untuk berbisnis maupun cara-cara lain dalam menangani permasalahan investasi.

"Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan investasi dan aktivitas perekonomian di DKI Jakarta," tuturnya.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta kuartal II 2020 tercatat kontraksi di angka -8,22%. Angka pertumbuhan tersebut menurun tajam, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang masih mengalami pertumbuhan positif sebesar 5,06%.

"Perkembangan ini tidak terlepas dan pengaruh melemahnya ekonomi global," serunya.

Menurutnya, ekonomi DKI Jakarta juga menurun tajam sebagai dampak kebijakan penerapan PSBB yang mengharuskan jam kerja lebih pendek. Termasuk berkurangnya jumlah pekerja lapangan demi pencegahan penyebaran covid-19.

"Kontraksi pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen pengeluaran PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) DKI Jakarta, dengan kontribusi penurunan terdalam bersumber dan pengeluaran investasi dan konsumsi rumah tangga," ujar Hamid.

Suasana kawasan Monumen Nasional (Monas) dan gedung-gedung perkantoran di Jakarta, Kamis (13/8/2020). Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi perekonomian Indonesia selama 2020 tumbuh minus 0,49% sebagai dampak pandemi covid-19. ANTARAFOTO/Aditya Pradana Putra.

Porsi Besar
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, PSBB di DKI Jakarta memang akan berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia.

“Yang akan terjadi di DKI Jakarta (PSBB) akan berpengaruh besar kepada perekonomian Indonesia,” kata Suhariyanto beberapa waktu lalu.

Dia menilai itu terjadi karena Jakarta memiliki porsi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, Jakarta menyumbang 17,7% hingga 18% dari keseluruhan produk domestik bruto atau PDB Indonesia. Karena itu, jika perekonomian Jakarta mengalami guncangan, akan berdampak terhadap perekonomian secara nasional.

BPS DKI Jakarta sendiri mencatat, kontraksi minus 8,22% di kuartal II 2020 merupakan yang terendah selama kurun waktu 10 tahun terakhir, meski tidak sedalam saat krisis ekonomi tahun 1998.

“Pariwisata menjadi sektor yang pertama kali terdampak atas kebijakan PSBB. Hal ini terlihat dari nilai tambah sektor hotel, restoran, transportasi, dan jasa lainnya yang terkontraksi sangat dalam,” kata Kepala BPS DKI Jakarta Buyung Airlangga.

Setelah itu diikuti oleh sektor industri pengolahan dan konstruksi yang juga turut mengalami kontraksi. Lebih lanjut, melemahnya kinerja pada sektor-sektor tersebut berimbas pada terkontraksinya kinerja sektor perdagangan.

“Hal tersebut dikarenakan turunnya permintaan bahan baku dan penolong,” serunya.

Penurunan kinerja perekonomian, juga telah melemahkan daya beli masyarakat dan menyebabkan menurunnya konsumsi rumah tangga. Tingkat inflasi yang terkendali dengan baik, tidak cukup mampu mengimbangi penurunan pendapatan masyarakat.

“Sehingga pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) terkontraksi cukup dalam sebesar minus 5,23% (y-o-y)dan tidak mampu lagi menjadi penggerak perekonomian Jakarta,” imbuhnya.

Lebih lanjut, melemahnya agregat permintaan secara total menginspirasi pelaku usaha untuk menunda investasi. Hal ini menyebabkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) terkontraksi dalam sebesar minus 10,36% (y-o-y).

Selain itu, sebagai bagian dari masyarakat global yang terdampak covid-19, tekanan kepada perekonomian DKI Jakarta juga datang dari luar terkait menurunnya arus barang dan jasa yang keluar masuk Jakarta.

"Sejak awal memang diperkirakan ekonomi Jakarta akan turun lebih dalam daripada nasional di saat krisis. Namun juga diperkirakan bahwa saat wabah terkendali maka ekonomi Jakarta termasuk yang akan rebound paling cepat, Insyaallah," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Yanuruisa Ananta, Faisal Rachman)

top