idarenfrdehihujaru

Di Tengah COVID-19, Investasi Otomotif Rp 2,14 Triliun Selama 3 Bulan

Hits: 118

JAKARTA, Carvaganza.com – Industri mengalami tekanan di tiga bulan pertama 2020 akibat pandemi virus corona (COVID-19). Meski aliran modal yang ditanam di manufaktur Indonesia diklaim tetap apik.

Kementerian Perindustrian mencatat total investasi menyentuh nominal Rp 64 triliun. Besarannya naik 44,7 persen dibanding gapaian periode sama pada 2019, hanya Rp 44,2 triliun. Itu termasuk sektor otomotif.

Industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain disuntik duit Rp 2,14 triliun. Namun tak disebut dari merek apa saja. Investasi otomotif ini berada di peringkat ketujuh terbanyak.

“Kami optimistis, dengan melakukan upaya mitigasi atau menerbitkan kebijakan-kebijakan strategis pada masa pandemi COVID-19 ini, tidak mustahil bahwa Indonesia sebelum tahun 2030 sudah bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia,” ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta (27/4) kemarin.

Di sektor lain, industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik dan jam mencapai Rp 1,99 triliun. Kemudian industri pengolahan selama triwulan pertama 2020 diklaim menunjukan angka positif. Kontribusinya signifikan hingga 30,4 persen dari total investasi keseluruhan sektor Rp 210,7 triliun.

Menperin menyebut, perincian nilai investasi sektor industri manufaktur berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 19,8 triliun. Juga modal asing (PMA) Rp 44,2 triliun. Jumlah sumbangsih ini melambung dibanding perolehan pada periode yang sama 2019. Yakni PMDN sekitar Rp 16,1 triliun dan PMA (Rp28,1 triliun).

 

Tetap Optimistis

Agus yakin ekonomi Indonesia bakal mengalami rebound (pemulihan) lebih cepat pascapandemi COVID-19. Ia mengaku, untuk terus fokus berupaya mendorong agar industri manufaktur tetap bergerak. Lantas memacu roda perekonomian nasional. Sebelum terjadi wabah, industri pengolahan (termasuk otomotif) di Tanah Air masih menunjukkan gairah yang positif.

Hal ini tercermin pada capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis oleh IHS Markit. Pada Februari 2020 berada di posisi 51,9 atau tertinggi sejak 2005. Ditambah laporan dari Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF). Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi bisa melesat 8,2 persen pada 2021.

“Sebenarnya itu bergantung pada apa yang kita lakukan sekarang di saat krisis. Jadi, harus dapat memanfaatkan secara baik dan menanganinya secara tepat. Sehingga bisa menjadi sebuah peluang bagi kita,” tutur dia.

Lebih lanjut, Agus mengklaim sektor industri sedang melakukan refocusing. Khusus dalam membantu upaya pemerintah memperkuat sektor industri, dalam kategori high demand. Seperti alat kesehatan dan peranti lain. “Kami yakin terhadap potensi dan kemampuan industri dalam negeri untuk memenuhi permintaan yang tinggi. Kemudian juga dapat mengurangi ketergantungan impor,” pungkasnya.

top