idarenfrdehihujaru

Tourism

Ada investasi di tambang bawah tanah, Bos Freeport Indonesia: Cashflow kami negatif

ILUSTRASI. Tambang bawah tanah Freeport Indonesia bakal membentang 1000 Km
Hits: 129

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi keuangan PT Freeport Indonesia (PTFI) ternyata tak secemerlang yang dibayang. Mengoperasikan salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang berletak di Papua, nyatanya tak selalu membuat kondisi cashflow atawa arus kas PTFI surplus.

Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, saat ini kondisi cashflow PTFI berada di posisi negatif. Hal itu terjadi lantaran dana investasi PTFI telah banyak tersedot untuk pengembangan tambang bawah tanah (underground mine).

"Sekarang cashflow kami negatif karena banyak investasi di tambang bawah tanah," kata dia dalam konferensi pers terbatas secara virtual, Selasa (28/4).

Namun, Tony tak merinci detail kondisi keuangan PTFI saat ini. Yang jelas, ia menegaskan bahwa sekali pun PTFI bisa mengajukan utang ke induk usaha atau Freeport McMoran, namun kewajiban pembayaran utang dan pembiayaan proyek tetap akan ditanggung oleh PTFI.

Sehingga, utang yang ditanggung tidak akan memberatkan para pemegang saham termasuk holding pertambangan BUMN Inalum/MIND ID yang sejak 21 Desember 2018 berhasil menggenggam 51,23% saham PTFI.

"Kami juga kan pinjam uang. Kami akan kembalikan lagi segera pada saat cashflow sudah positif, yang akan membiayai ujungnya adalah PTFI," ungkap Tony.

Dalam catatan Kontan.co.id, dari periode 1973 hingga 2018 PTFI telah mengucurkan investasi tambang senilai US$ 15,8 miliar. Investasi di tambang bawah tanah sudah dimulai sejak 2004 dengan investasi US$ 6 miliar-US$ 7 miliar.

Selanjutnya, PTFI akan terus menggelontorkan investasi sebanyak US$ 15,1 miliar untuk pengembangan tambang bawah tanah hingga Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PTFI berakhir pada tahun 2041.

Kabarnya, Freeport McMoran (FCX) telah mengajukan penawaran surat utang hingga US$ 2,5 miliar untuk mendanai proyek tambang bawah tanah di Indonesia melalui PTFI. Namun, saat dimintai konfirmasi, Tony enggan berkomentar mengenai hal ini.

"Kalau dari FCX kami tidak bisa komentar," sebutnya.

Yang jelas, sebagai imbas dari pandemi virus corona (covid-19), Freeport pun melakukan sejumlah perubahan rencana kerja. Revisi antara lain ditujukan dengan memangkas investasi di tahun ini sebesar US$ 200 juta, dari yang sebelumnya dianggarkan sebanyak US$ 1 miliar.

Asal tahu saja, pada kuartal I-2020, penjualan dua komoditas andalan, yakni emas dan tembaga mengalami penurunan. Penjualan tembaga PTFI turun 27% menjadi 127 juta pounds dibanding penjualan tembaga PTFI menyentuh 174 juta pounds.

Sementara itu, penjualan emas PTFI pun merosot 40,85% menjadi 139.000 ounces dari sebelumnya 235.000 ounces. Volume penjualan konsolidasi dari PTFI diperkirakan akan mendekati 742 juta pounds tembaga dan 0,8 juta ons emas pada tahun 2020.

Adapun, target penjualan tembaga PTFI sebesar 742 juta pounds di sepanjang tahun ini telah mengalami penyesuaian sebesar 1% dari target awal sebanyak 750 juta pounds. Sedangkan pada tahun lalu penjualan PTFI tercatat sebanyak 667 juta pounds tembaga dan 1,0 juta ons emas.

PTFI sendiri telah menerima perpanjangan satu tahun lisensi ekspor hingga 15 Maret 2021. Merujuk pada pemberitaan Kontan.co.id, Kementerian ESDM telah memberikan rekomendasi ekspor sebanyak 1.069.000 wet ton konsentrat tembaga. Kuota ekspor tersebut meningkat dibanding periode sebelumnya, yang sebesar 746.953 wet ton konsentrat tembaga.

Sebagai informasi, 60% konsentrat yang diproduksi PTFI di ekspor ke sejumlah negara terutama negara Asia, seperti Jepang, Korea, Filipina, India dan China.

Di tengah kondisi pandemi seperti saat ini, Tony mengatakan bahwa kinerja penjualan konsentrat PTFI masih cukup terjaga. "Penjualan tetap berjalan sebagaimana yang direncanakan. Pembeli (konsentrat) kita masih berproduksi," tandas Tony.

top