idarenfrdehihujaru

Tourism

Pengamat Ekonomi Sebut Pembangunan Jalan Tol Bakal Pacu Pertumbuhan Investasi di Sulut

Rahel Kimbal
Hits: 134

TRIBUNMANADO.CO.ID - Usulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terkait pembangunan Jalan Tol Manado-Amurang dan pembangunan Jembatan Lembeh -Bitung telah di setujui oleh Pemerintah Pusat.

Dari sejumlah proyek yang di ajukan oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey, kedua proyek tersebut siap dieksekusi oleh pemerintah Provinsi di tahun 2021 mendatang.

Pembangunan jalan tol atau jalan bebas hambatan ini, termuat dalam Peraturan Daerah (Perda) nomor 1 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah. Disitu sudah direncanakan pembangunan jalan tol Manado-Bitung, Manado-Tomohon, Tomohon-Amurang, dan Kairagi-Mapanget.

Tol Manado-Amurang sendiri akan menjadi tol kedua di Sulut, setelah Tol Manado-Bitung. Begitu juga pembangunan Jembatan Lembeh-Bitung yang ditaksir akan menelan anggaran sekira 1 Triliun.

Menanggapi hal ini, Pengamat Ekonomi dari Universitas Negeri Manado (UNIMA) Dr Rahel Kimbal mengatakan langkah pemerintah untuk membangun infrastruktur di Sulut sudah sangat baik. Menurutnya pembangunan jalan tol adalah organ vital dan penting bagi perekonomian.

"Ini merupakan langkah yang sangat baik tentunya, sebab Jalan Tol ini sangat strategis bagi pengaruh pertumbuhan ekonomi di daerah, apalagi dengan adanya tol dapat memicu investasi dan sektor pariwisata di Sulut," jelas Kimbal kepada Tribun Manado.

Namun dirinya menilai pembangunan jalan tol dan infrastruktur di Sulut perlu mengkaji dampak dari segi Mikro dan Makro ekonomi.

Pertama, secara Mikro Ekonomi pembangunan tol ini akan meningkatkan mobilitas dan memperlancar Distribusi barang dan jasa yang dapat menunjang kegiatan ekonomi masyarakat Sulut.

"Sebab lamanya distribusi barang menyebabkan tingginya biaya, nah, dengan adanya jalan tol dapat menghemat waktu para pelaku ekonomi dan menekan biaya lain yang ditimbulkan," jelas Kimbal.

Doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Brawijaya ini menyebut adanya jalan tol dapat merangsang pertumbuhan ekonomi masyarakat, dengan adanya pembangunan pada jalur-jalur bisnis yang strategis.

"Sedangkan dari segi Makro ekonomi, dampaknya luas, pemerataan hasil pembangunan dapat terdistribusi dengan baik kepada masyarakat karena mempermudah akses penyalurannya," kata Kimbal.

Hal ini, menurutnya juga akan menekan angka pengganguran dengan adanya daerah ekonomi masyarakat yang aktif, akan mendorong UMKM, sehingga mengurangi angka kemiskinan dan meminimalisasi kriminalitas.

Selain itu, dampak strategis dari Pembangunan Tol dan Akses Jembatan Lembeh-Bitung juga berpengaruh besar bagi sektor pariwisata di Sulut, khususnya yang akan bersinggungan langsung dengan akses infrastruktur tersebut.

"Apalagi dalam sektor bisnis, hal ini tentu akan memantik Investor masuk di Sulut, ini akan mendorong minat investor asing maupun lokal untuk menanamkan modal, dan ini kedepan manfaatnya akan kembali ke pemerintah sendiri," terang Kimbal.

Dikatakannya, potensi investasi di Sulut sangat besar bahkan dari data saat ini investasi di Sulut tahun 2019 mencapai Rp 11,5 triliun dan capaian realisasinya mengalami kenaikan sebesar 308 persen dari target Rp 3,7 Triliun.

"Bayangkan saja, itupun jalan tol amurang belum dibangun, berarti kalau sudah dibangun akan lebih tinggi lagi capaiannya, sebab jalan tol salah satu organ penting dalam mempercepat kemajuan perekonomian Sulut," ungkap Dosen Ilmu Ekonomi Fekon Unima ini.

Namun, dirinya mengatakan pembangunan jalan tol ini bukan tanpa ada sisi negatifnya.

Pembangunan jalan tol ini pasti akan membutuhkan lahan yang luas yang berdampak pada tata ruang lahan pertanian. Ini yang perlu secara matang dipertimbangkan oleh pemerintah.

"Ini juga yang perlu pikirkan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur berskala besar, yaitu berkurangnya lahan pertanian masyarakat, ini dapat menjadi ancaman bagi ketahanan pangan," kunci Kimbal.

top