idarenfrdehihujaru

India Berusaha Percepat Masuknya Investasi dari Tiongkok

Hits: 34

New Dehli: India berencana mempercepat peninjauan beberapa proposal investasi dari negara-negara tetangga seperti Tiongkok menyusul kekhawatiran akan adanya hambatan dalam aturan penyaringan baru kepada perusahaan dan investor yang mau berinvestasi.

Dikutip dari CNA, Minggu, 26 April 2020, untuk menghindari pemanfaatan kesempatan selama wabah virus korona, India mengatakan bahwa semua investasi asing langsung dari negara-negara yang bersentuhan dengan perbatasan darat butuh izin pemerintah sebelumnya, yang berarti mereka tidak dapat masuk secara otomatis.

Para penasihat perusahaan-perusahaan Tiongkok mengatakan mereka khawatir proses itu bisa memakan waktu beberapa minggu. Perusahaan-perusahaan otomotif seperti SAIC's MG Motor dan Great Wall, dan investor Alibaba dan Tencent telah memasang investasi besar di India. Kedutaan Besar Tiongkok di New Delhi menyebut kebijakan penyaringan baru itu diskriminatif.


Sumber senior pemerintah India yang terlibat dalam pembuatan kebijakan mengatakan bahwa New Delhi akan mencoba untuk menyetujui setiap proposal investasi di sektor yang tidak sensitif dalam waktu 15 hari. Pejabat tersebut menolak untuk menguraikan sektor mana yang akan dianggap sensitif dan berapa ambang investasi yang dianggap signifikan.
 
"Kami akan mencoba mempercepat proposal investasi sesegera mungkin. Mungkin lebih cepat untuk beberapa (sektor) dan di yang lain kami mungkin membutuhkan waktu," kata pejabat itu, yang tidak mau disebutkan namanya karena sensitivitas para pejabat.
 
Dua sumber lain yang memahami pemikiran pemerintah menegaskan bahwa mekanisme jalur cepat sedang dipertimbangkan, dengan kemungkinan waktu persetujuan tujuh hari hingga empat minggu.
 
Sementara mekanisme 'jalur cepat' investasi akan terbuka untuk semua tetangga India dengan perbatasan darat, Tiongkok akan menjadi penerima manfaat utama. Tidak seperti Pakistan, Bangladesh, Myanmar, Nepal dan Bhutan, ia memiliki investasi besar yang sudah ada dan yang akan direncanakan di India, yang diperkirakan oleh kelompok riset Brookings mencapai USD26 miliar.
 
Dipti Lavya Swain, mitra di firma hukum India HSA Advocates yang memberi nasihat kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok mengatakan sektor-sektor seperti telekomunikasi, jasa keuangan dan asuransi cenderung dianggap lebih sensitif daripada yang lain seperti mobil dan energi terbarukan.
 
"Persetujuan harus menjadi proses yang mulus dan apa pun antara dua hingga empat minggu masih bisa ditanggung," kata Swain. "Sektor-sektor yang sudah dalam kesulitan keuangan yang parah dan tidak mementingkan keamanan nasional juga harus menerima persetujuan yang lebih cepat," tambah dia.
 
Kementerian luar negeri Tiongkok berharap lingkungan bisnis yang lebih baik karena India telah menetapkan lebih banyak hambatan bagi beberapa investor.
 
"Tiongkok prihatin. Dalam menghadapi krisis ekonomi yang disebabkan oleh epidemi, negara-negara harus bersatu untuk mengatasi kesulitan," katanya dalam sebuah pernyataan tertanggal 22 April. 


(SAW)

top