idarenfrdehihujaru

Penciptaan Kestabilan Investasi Dampak COVID-19

Dr Josep Ginting, Dosen President University
Hits: 14

JAKARTA, Investor.id - Nilai tukar rupiah per tanggal 23 Maret 2020 telah mengalami pelemahan yang cukup tajam dari Rp 13.600 per dolar AS menjadi Rp 16.500 per dolar AS Bahkan sempat diperdagangkan di atas Rp 17.000 per dolar AS.

Demikian juga harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mengalami penurunan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sekitar 36,67% menjadi kisaran 3.989,52 pada tanggal 23 Maret 2020 dari 6.298.92 pada 30 Desember 2019. Sementara itu, yield to maturity obligasi 10 tahun telah berada pada kisaran 8%.

Di sisi lain, suku bunga acuan Bank Indonesia 7 Day Reserve Repo Rate 7 hari (BI-7RR) turun menjadi 4.75%. Angka-angka tersebut semuanya diperkirakan sebagai dampak penyebaran Covid-19 terhadap ekonomi dunia dan ekonomi Indonesia. Dapat dikatakan semua menjadi negatif dan menakutkan. Apakah sedemikian besarnya dampak nyata akibat Covid-19?

Pasar modal (saham dan obligasi, termasuk reksa dana) adalah pasar yang tidak sepenuhnya terbebas dari spekulasi, bahkan mungkin dipengaruhi oleh perilaku spekulasi. Kenapa dikatakan spekulasi? Spekulasi di sini adalah ketidakpastian bukan judi.

Pada dasarnya harga-harga instrumen investasi yang terbentuk pada saham dan obligasi adalah harga estimasi, bukan harga sebenarnya. Harga pasar wajar yang dihitung dengan Discounted Cashflow bahkan dengan menghitung harga saham dengan pendekatan Residual Operation Income dan Net Operating Asset pun masih mengandung angka “goyang”. Pada Discounted Cashflow penilaian Present Value dari Free Cash Flow masih berasal dari:

a.) Estimasi Free Cash Flow (FCF),

b). Estimasi growth untuk konsep perpetuity sejak titik Terminal Value hingga jangka waktu tidak terhingga juga adalah angka estimasi yang sangat rentan dengan kesalahan.

Demikian juga dengan penilaian harga saham yang sangat konservatif yang didasarkan pada perhitungan estimasi Residual Operating Income (ReOI) dan juga estimasi Return on Net Operating Asset (RNOA). Keduanya adalah produk estimasi, meskipun sedikit lebih konservatif dibanding model Discounted Cashflow.

Sama halnya dengan harga wajar obligasi, tidak serta merta berasal dari nilai Present Value bunga obligasi yang akan diterima pada masa yang akan datang. Tetapi telah dipengaruhi ekspektasi tambahan yang berasal dari prilaku investor obligasi.

Jika demikian tentunya kondisi sedang berjalan akan lebih terpuruk lagi. Aapakah demikian? Apabila seluruh informasi dimasukkan ke dalam keputusan investasi maka semua ketakutan akan terjadi (terealisasi).

Untuk mencegah kondisi yang lebih buruk, kita bisa melihat beberapa hal yang mungkin dapat mengurangi ketakutan yang mengakibatkan tekanan pada pasar saham atau pasar obligasi yang pada akhirnya dapat berefek negatif kepada nilai harga wajar reksa dana . Bhkan nilai aktiva produktif perbankan di Indonesia.

Ada beberapa poin yang harus dipahami antara lain:

1. Penurunan harga saham sebaiknya dilihat dari volume transaksi saham secara tertimbang, mengingat penurunan harga saham bisa saja terbentuk oleh sejumlah saham yang tidak terlalu besar, berkebalikan dengan perhitungan indeks yang menghitung kapitalisasi pasar.

2. Pemikiran sederhana mekanisme perdagangan saham di mana jika ada yang menjual pasti ada yang membeli.

3. Harga obligasi terjadi lebih rendah pastinya karena terjadi mekanisme jual beli (antara penjual dan pembeli). Jika tidak maka harga tidak akan turun.

4. Harga saham atau Yield to Maturity obligasi adalah tingkat kepuasan pembeli dan penjual sehingga terkadang tidak dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi yang melekat pada hitungan estimasi forward rate nilai tukar. Misalnya, pada pertimbangan tersebut akan sangat rugi jika melakukan penjualan yang didasari dengan kepanikan.

Strategi

Lantas pertanyaannya kemudian, strategi apa yang harus dilakukan oleh masyarakat investor termasuk manajer investasi dan juga (mungkin) regulator? Langkah taktis jangka pendek (sementara) perlu dilakukan dengan kerja sama semua pihak antara lain:

1. Semestinya reksa dana secara fleksibel menyesuaikan harganya dari marked to market menjadi fair value saham atau obligasi yang dianggap paling konservatif. Sehingga mengurangi besaran penurunan nilai aktiva bersih.

2. Sebaiknya investor reksa dana (institusi termasuk perbankan) tidak melakukan penjualan reksa dana secara besar-besaran untuk mengurangi pressure di pasar.

3. Sebaiknya investor obligasi khususnya perbankan, asuransi, dana pensiun dan manajer investasi tidak serta merta menjual obligasinya mengingat penerbit obligasi masih membayar bunga obligasi.

4. Jika dibutuhkan, manajer investasi dapat berinisiatif dan mengusulkan pembentukan dana yang bisa memayungi investasi pasar modal di perbankan sehingga mengurangi risiko penurunan aset.

5. Jika bisa dibuatkan satu kebijakan akuntansi yang memungkinkan institusi tidak harus membukukan harga efek saham, efek obligasi dan reksa dana marked to market. Paling tidak untuk tahun 2020, untuk mengurangi pengakuan kerugian yang tidak disengaja (force majeur). Dengan demikian investor institusi yang memang dengan tidak sengaja menghadapi risiko penurunan nilai akan tertolong kestabilan nilai asetnya dalam rangka mempertahankan kepercayaan investor baik lokal maupun investor asing.

Perlu dipahami, penurunan kinerja ekonomi ataupun industri di Indonesia meskinya tidak akan terlalu besar, katakanlah sekitar 3 sampai dengan 6 bulan sejak Maret 2020, artinya ada momen manfaat yang diterima oleh pemerintah maupun oleh industri pada kurun waktu Januari 2020 sampai dengan Maret 2020 dan pada kurun waktu September 2020 hingga Desember 2020. Hal ini dapat dilihat pada saham yang perusahaannya memiliki ReOI positif dengan atau tanpa growth RNOA.

Yang perlu disadari, mempertahankan kestabilan perekonomian negara dan pertumbuhan industri agar tetap bagus adalah tanggung jawab bersama, tidak bisa dibebankan kepada pemerintah saja. Hal ini tentunya harus dibantu semua pihak baik badan usaha milik pemerintah (negara dan daerah) maupun pihak swasta ataupun regulator terkait serta peneliti-peneliti di universitas (Corporate, Government dan University).

Langkah-langkah tersebut bisa dilakukan sambil menunggu meredanya Covid-19. Dengan demikian, iklim investasi di Indonesia akan membaik segera dan mendapat kepercayaan dari pihak lokal maupun asing. Tentunya sasarannya adalah rupiah dapat menguat kembali sesegera mungkin, sebelum akhir September 2020.

Rekomendasi :

Saham BUMN, saham non-BUMN yang tergolong farmasi, perkebunan, retail yang memiliki nilai hutang dalam mata uang asing kecil dan ROI positif.

Obligasi, pada obligasi korporasi swasta dengan strong cashflow dengan YTM minimum 9%, obligasi BUMN dan obligasi pemerintah dengan durasi jangka pendek (< 10 tahun) dengan YTM minimum 7%.

*** Dr. Josep Ginting, Dosen President University

Sumber : Investor Daily

top