SAMBUTAN

H. ARHAWI, SE., MM.
BUPATI WAKATOBI

Beliau dilahirkan di Wanci pada tanggal 10 November 1964, dari pasangan alm. H. La Ruda (ayah) dan Hj. Wa Alifa (Ibu), beragama Islam. Dalam pernikahannya dengan Ibu Hj. Safaria, beliau dikaruniai 1 putera dan 2 puteri.

Beliau mengawali pendidikan dasarnya di SD Negeri 2 Wanci (lulus 1977), kemudian ke SMP Negeri Wanci (lulus 1981) dan SMA Negeri 1 Bau-Bau (lulus 1984). Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Islam Malang untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi (S-1) pada tahun 1990 dan di Universitas Haluoleo Kendari untuk mendapatkan gelar Magister Manajemen (S-2) pada tahun  2019.

Beliau memiliki pengalaman dalam berorganisasi yaitu sebagai Ketua KADIN Kabupaten Wakatobi (2006-2008); Ketua KONI Kabupaten Wakatobi (2011-sekarang); Ketua Kwartir Cabang Pramuka Kabupaten Wakatobi (2011-sekarang).

Sedangkan karier politiknya adalah sebagai Ketua DPD PAN Kabupaten Wakatobi Periode 2005-2017; Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wakatobi periode 2009-2011; Wakil Bupati Wakatobi periode 2011-2016; dan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Wakatobi (2018-sekarang).

Tanda Kehormatan yang dimiliki beliau adalah: Melati Pramuka dari Ketua Kwarnas Pramuka Republik Indonesia (2017); Tokoh Inovatif Pemerintahan Kendari Post Award (2017); Manggala Karya Kencana dari Kepala BKKBN Republik Indonesia (2018); Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI (2018); Tokoh Inovatif Pemerintahan Kendari Post Award (2018); Medali Kejuangan 9 Windu Kemerdekaan Republik Indonesia dari Dewan Nasional ’45 (2019).

Sedangkan Piagam Penghargaan yang pernah diterima beliau adalah: Piagam

Penghargaan Inagara sebagai Pemerintah Daerah yang Berkomitmen Tinggi terhadap Pengelolaan Inovasi Administrasi Negara dari Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN-RI); Penghargaan atas Prestasi Akuntabiltas Kinerja Tahun 2018 dengan Predikat B dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia; dan Opini WTP dalam hal Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah selama 4 Tahun berturut-turut dalam Kepemimpinan beliau

Saoruddin,S.Pi., M.Si
SAMBUTAN KEPALA DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN WAKATOBI

Dengan Rahmat dan Karunia Allah SWT, penyusunan buku berjudul “Potensi dan Peluang Investasi  Kabupaten Wakatobi” ini dapat terwujud. Buku ini memberikan informasi tentang Potensi dan Peluang Investasi di berbagai Sektor lingkup Kabupaten Wakatobi kepada para Investor dan Calon Investor Penanaman Modal baik dari dalam Negeri (PMDN) maupun modal asing (PMA).

Informasi potensi dan peluang investasi Kabupaten Wakatobi dituangkan dalam bentuk buku, yang disajikan dalam dua bahasa (Indonesia-Inggris). Buku ini kemudian akan didistribusikan di dalam negeri dan ke mancanegara dengan harapan segenap potensi dan peluang Investasi di berbagai sektor yang ada di Kabupaten Wakatobi dapat terpublikasi dan terekspos secara optimal.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang menjadi mitra kami, serta OPD terkait yang telah berkontribusi dalam pemberian Data dan Informasi serta memberikan dukungan sehingga buku berjudul “Potensi dan Peluang Investasi  Kabupaten Wakatobi” ini dapat tersusun.

Semoga dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Potensi dan Peluang Investasi Kabupaten Wakatobi

Potential and Investment Opportunities in Wakatobi Regency
website
VISI DAN MISI PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI BARAT
VISI
“Menjadi Kabupaten Maritim yang Sejahtera dan Berdaya Saing” “Becoming Prosperous and Competitive Maritime Regency”.

1

Mengembangkan kualitas sumber daya manusia

2

Membangun ekonomi kemaritiman yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan

3

Membangun infrastruktur wilayah

4

Mengembangkan pemerintahan yang inovatif dan partisipatif serta layanan publik yang berkualitas berbasis teknologi informasi; dan

5

Membangun kolaborasi regional, nasional, dan Internasional.

GAMBARAN UMUM DAERAH
Letak Geografis, Luas Wilayah dan Perbatasan

Secara geografis letak Kabupaten Wakatobi berada di sebelah Selatan garis khatulistiwa, membentang dari Utara ke Selatan, di antara 05012’ – 06015’ Lintang Selatan (sepanjang + 160 km) dan membentang dari Barat ke Timur di antara 123020’ – 124039’ Bujur Timur (sepanjang + 120 km). Luas wilayah Kabupaten Wakatobi adalah sekitar 19.200 km², terdiri dari daratan seluas ± 823 km² atau hanya sebesar 4,30% dan luas perairan (laut) ± 18.377 km2 atau sebesar 95,70% dari luas Kabupaten Wakatobi. Kabupaten Wakatobi terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan, yaitu Kecamatan Wangi-Wangi, Wangi-Wangi Selatan, Kaledupa, Kaledupa Selatan, Tomia, Tomia Timur, Binongko, dan Togo Binongko dengan 75 Desa, 25 Kelurahan, 204 Dusun dan 87 Lingkungan. Secara administratif batas wilayah kawasan Kabupaten Wakatobi adalah sebagai berikut: Laut Banda di sebelah Utara dan Timur; Laut Flores di sebelah Selatan dan Barat.


Kabupaten Wakatobi merupakan gugusan kepulauan yang berjumlah 43 pulau dan diantaranya ada 4 (empat) pulau besar yang berpenghuni, yakni Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko (WAKATOBI). Keempat pulau tersebut mudah dijangkau, baik dari region Provinsi Sulawesi Tenggara, regional Kawasan Timur Indonesia, nasional maupun internasional.

Demografi

Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, jumlah penduduk terus mengalami peningkatan selama sembilan tahun terakhir. Tercatat tahun 2018 jumlah penduduk Wakatobi sebesar 95.737 yang terdiri dari 46.032 laki-laki dan 49.705 perempuan (rasio: 93). Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Wakatobi periode 2010-2018 sebesar 2,57%, angka ini lebih lambat dibandingkan dengan periode 2000-2010 sebesar 5,88%. Perlambatan ini disebabkan oleh keberhasilan program KB di Kabupaten Wakatobi berupa pembatasan jumlah kelahiran. Selain itu lebih banyaknya migrasi keluar penduduk dibandingkan migrasi masuk di Kabupaten Wakatobi juga menjadi salah satu faktor melambatnya pertumbuhan penduduk Kabupaten Wakatobi. Dilihat dari kepadatan penduduknya, pada tahun 2018 kepadatan penduduk Kabupaten Wakatobi mencapai 202 penduduk per km2 (data BPS: Statistik Daerah Kabupaten Wakatobi 2019). Penduduk Wakatobi terdiri dari: beragama Islam (99,93%); Protestan (0,05%); dan Katolik (0,02%).

Jumlah angkatan kerja pada tahun 2018 sebesar 46.042 jiwa. Jumlah ini mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2017 sebesar 41.974 jiwa. Dari 46.042 angkatan kerja, 44.922 penduduk berstatus bekerja dan 1.120 penduduk berstatus pengangguran (termasuk yang sedang mencari pekerjaan). Semakin tinggi nilai Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengindikasikan semakin banyaknya penduduk angkatan kerja yang tidak tertampung dalam lapangan pekerjaan. Selama tiga tahun terakhir TPT menurun dengan kecenderungan konstan pada periode 2017-2018. Pada tahun 2017 TPT mengalami penurunan yang semula 4,24% pada tahun 2015 menjadi 2,43% yang artinya 2,43% dari angkatan kerja yang ada di Wakatobi tidak tertampung dalam lapangan pekerjaan pada tahun 2017. Sementara pada tahun 2018, TPT tidak mengalami perubahan, yakni tetap di angka 2,43%. TPT yang tidak mengalami perubahan pada tahun 2018 tidak serta merta diartikan bahwa tidak ada peningkatan struktur ekonomi atau lapangan kerja di Kabupaten Wakatobi. Peningkatan lapangan kerja yang selaras dengan besarnya jumlah tambahan angkatan kerja dan besarnya proporsi angkatan kerja menjadi salah satu penyebab ketatnya kesempatan kerja penduduk. Hal ini dapat dilihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Wakatobi yang mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada tahun 2018, TPAK Kabupaten Wakatobi adalah sebesar 70,48%, meningkat sebesar 5,60% dari tahun 2017. Artinya, pada tahun 2018 terdapat 5,60% tambahan pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang dan jasa dalam suatu perekonomian dibandingkan tahun 2017. Di Kabupaten Wakatobi sendiri, angka IPM tahun 2018 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yang semula 67,99 pada tahun 2017 menjadi 68,52 pada tahun 2018. Angka ini termasuk kedalam kategori IPM sedang. (data BPS: Statistik Daerah Kabupaten Wakatobi 2019).

Topografi, Iklim dan Kesesuaian Lahan

TOPOGRAFI

Topografi wilayah daratan Kabupaten Wakatobi sebagian besar atau sekitar 40% adalah landai dengan ketinggian sekitar 3-20 m di atas permukaan laut (dpl). Topografi landai terutama terdapat di bagian Selatan Pulau Wangi-Wangi, bagian Utara dan Selatan Pulau Kaledupa, bagian Barat dan Timur Pulau Tomia, serta wilayah bagian Selatan Pulau Binongko. Sedangkan bentuk topografi perbukitan, berada di tengah-tengah pulau dengan ketinggian berkisar antara 20-350 m dpl. Topografi berupa dataran sampai berombak seluas 17.734 ha (41,63%), tanah berbukit seluas 7.103 ha (16,47%) dan tanah pegunungan seluas 17.850 ha (41,9%). Selain bentangan pulau-pulau kecil, relief dan topografi, di Wakatobi juga membentang Gunung Tindoi di Pulau Wangi-Wangi, Gunung Pangilia di Pulau Kaledupa, Gunung Patua di Pulau Tomia dan Gunung Watiu’a di Pulau Binongko.

 

IKLIM

Menurut klasifikasi Schmidt-Fergusson, iklim di Kabupaten Wakatobi  termasuk tipe C, dengan dua musim yaitu musim kemarau (musim timur: April – Agustus) dan musim hujan (musim barat: September – April). Musim angin barat berlangsung dari bulan Desember sampai dengan Maret yang ditandai dengan sering terjadi hujan. Musim angin timur berlangsung bulan Juni sampai dengan September. Peralihan musim yang biasa disebut musim pancaroba terjadi pada bulan Oktober – November dan bulan April – Mei. Suhu udara di Wakatobi selama tahun 2018 berkisar antara 21,73°C sampai dengan 34,15°C. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan suhu pada musim kemarau dan musim hujan. Rata-rata kelembaban udara di Kabupaten Wakatobi pada tahun 2018 yaitu 81,17%. Kelembaban udara terendah terjadi pada bulan September yaitu 71% dan kelembaban tertinggi terjadi pada bulan April dan Juni yaitu 86%. Rata-rata kecepatan angin 2,83 knot. Rata-rata curah hujan sebesar 159,31 mm3 dengan jumlah hari hujan 168 hari selama tahun 2018. (data BPS: Statistik Daerah Kabupaten Wakatobi 2019).

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wakatobi tahun 2018 mengalami percepatan dibanding tahun sebelumnya, yakni sebesar 6,50% (tahun 2018). Pertumbuhan terjadi pada semua lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada kategori Informasi dan Komunikasi yang tumbuh sebesar 7,98%, disusul kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Motor sebesar 7,90%, serta kategori Konstruksi yang tumbuh sebesar 7,72%. Tingginya pertumbuhan lapangan usaha Informasi dan Komunikasi didorong meningkatnya jangkauan jaringan internet fiber optik, fasilitas internet gratis di tempat publik, serta meningkatnya permintaan akan internet dan data seluler. Struktur perekonomian sebagian masyarakat di Kabupaten Wakatobi masih terletak pada sektor primer yang bergantung pada alam. Dari penduduk yang bekerja, 37,48% di antaranya bekerja di sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Sejalan dengan itu, struktur PDRB didominasi oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 27,50%. Namun kontribusi sektor ini mulai menurun dalam tiga tahun terakhir. Hal ini dimungkinkan karena adanya pergeseran lapangan usaha ke sektor lainnya seperti Konstruksi (sektor sekunder) dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Motor (sektor tersier) yang dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan kontribusi. Sebagaimana lapangan usaha Konstruksi berkontribusi kedua terbesar sebesar 15,95% di tahun 2018, sebelumnya di tahun 2017 sektor ini berada di urutan ketiga penyumbang PDRB di bawah sektor Pertambangan dan Penggalian. Sementara itu sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Motor menyumbang kontribusi sebesar 14,55% di tahun 2018 di bawah sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 15,62%.

SARANA DAN PRASARANA
Bandara

Di Pulau Wangi-Wangi terdapat Bandara Udara Matahora dan di Pulau Tomia tersedia Bandara Udara Maranggo sebagai moda transportasi khusus untuk wisatawan dari Bali dan Singapura. Jumlah penumpang yang berangkat ke luar Wakatobi dengan menggunakan pesawat selama tahun 2018 berjumlah 30.656 orang, sedangkan penumpang yang datang ke Wakatobi berjumlah 29.831 orang dengan jumlah penerbangan 566 kali.

Pelabuhan

Pelabuhan Laut Nasional Panggulu Belo dan jalur angkutan ferry ASDP Kamaru-Wanci di Pulau Wangi-Wangi.

Jalan Raya

Panjang jalan seluruh wakatobi menurut Dinas Pekerjaan Umum Tahun 2017 adalah sebesar 490.276 m. Terdiri dari jalan aspal, kerikil, dan tanah. Sebagian besar jalan merupakan jalan aspal di mana jalan dengan kondisi baik sepanjang 138.960 m, sedang 46.918 m, rusak 27.084 m, dan rusak berat 277.314 m.

Transportasi

Pada Tahun 2018 jumlah kendaraan terdaftar mencapai 4.569 unit dengan sepeda motor sebagai unit kendaraan terbanyak (4.225 unit). Transportasi laut tercatat 73 angkutan penyeberangan (62 angkutan penumpang dan 11 angkutan barang). Infrastruktur angkutan laut paling banyak merupakan talud sebanyak 35. Disusul kemudian dermaga/pelabuhan sebanyak 29 unit, selebihnya jembatan titian (13 unit), benteng perahu (5 unit), dan titian (3 unit).

Telekomunikasi

Terdapat 2 Kantor Pos Pembantu (di Binongko dan Wangi-Wangi) dan 2 Rumah Pos (di Tomia dan Kaledupa).

Perbankan

Bank BPD Sultra, Bank BRI, Bank BNI, Bank Danamon, Bank BPR Bahteramas dan BMT Mu’amalat.

Fasilitas Kesehatan

1 Rumah Sakit; 20 Puskesmas; 137 Posyandu; 2 Klinik/Balai Kesehatan; 9 Polindes. Tenaga Kesehatan: 4 tenaga Medis; 140 tenaga Keperawatan; 73 tenaga Kebidanan; 11 tenaga Kefarmasian; 2 tenaga Kesehatan lainnya. Tercatat 1 dokter Spesialis dan 14 dokter Umum.

Tempat Ibadah

146 masjid dan 20 musholah.

Listrik dan Air

Listrik: 25.549 pelanggan dengan distribusi: 27.241.248 KWh, produksi: 29.619.220 KWh (tahun 2018). Air: 6.981 pelanggan; air disalurkan: 467.468 m3 (tahun 2018). 

Fasilitas Pendidikan

147 Taman Kanak-Kanak; 13 Raudhatul Anfal (RA); 110 Sekolah dasar (SD); 8 Madrasah Ibtidaiyah (MI); 10 Madrasah Tsanawiyah (MTs); 43 Sekolah Menengah Pertama (SMP); 19 Sekolah Menengah Atas (SMA); 6 Madrasah Aliyah (MA); 2 Sekolah Tinggi (Sekolah Tinggi Agama Islam dan Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan Wakatobi)

PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP)

Pengurusan Perijinan dilakukan melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Wakatobi. Untuk mengurus berbagai surat ijin saat ini sudah sangat mudah karena dapat dilakukan secara elektronik dan secara konvensional. Bila membuat surat ijin secara elektronik, Pengusaha atau Investor dapat langsung mengakses Layanan OSS di http://oss.go.id sedangkan jika secara konvensional dapat langsung datang di kantor DPMPTSP Kabupaten Wakatobi

Mekanisme Pelayanan Perizinan

(Bagian Kedua Pasal 16 Peraturan Daerah Kabupaten Wakatobi Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penanaman Modal di Kabupaten Wakatobi):

Mekanisme Pelayanan Perizinan dilakukan sebagai berikut: (1) Calon penanam modal yang akan melakukan kegiatan penanaman modal wajib mengajukan permohonan pendaftaran penanaman modal kepada Bupati melalui Kepala DPMPTSP; (2) Pendaftaran penanaman modal ditetapkan dengan Keputusan Kepala DPMPTSP atas nama Bupati selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak berkas dinyatakan lengkap; (3) Permohonan perijinan apabila ditolak, keputusan penolakan akan dilengkapi dengan alasan penolakan dengan mengembalikan berkas permohonan kepada pemohon. Keputusan penolakan permohonan disampaikan kepada pemohon selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak berkas permohonan diterima; dan (5) Apabila Bupati atau pejabat lain yang berwenang di bidang penanaman modal tidak memberikan keputusan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, permohonan dianggap diterima.

Insentif Investasi

(BAB X tentang Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Wakatobi Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penanaman Modal di Kabupaten Wakatobi):

Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan penanaman modal kepada penanam modal yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemberian insentif dan pemberian kemudahan dilakukan berdasarkan prinsip:

 a.     Kepastian hukum; 
 b.    Kesetaraan
 c.    Transparansi
 d.    Akuntabilitas
 e.    Efektif dan efisien

Pemberian insentif dapat berbentuk: a. pengurangan, keringanan atau pembebasan pajak daerah; b. pengurangan, keringanan atau pembebasan retribusi daerah; c. pemberian dana stimulan; dan/atau d. pemberian bantuan modal sesuai kemampuan keuangan daerah.

Pemberian kemudahan dapat berbentuk:

 a.   Penyediaan data dan informasi peluang penanaman modal 
 b.   Penyediaan sarana dan prasarana
 c.   Penyediaan lahan atau lokasi
 d.   Pemberian bantuan teknis dan / atau
 e.   Percepatan pemberian perizinan.

Pemerintah Daerah memberikan kemudahan perizinan dan non-perizinan, meliputi:

 a.   Surat persetujuan prinsip yang diterbitkan oleh Bupati untuk penanaman modal paling lama 2 (dua) tahun; 
 b.  Dalam hal penanam modal telah memiliki izin prinsip sebagaimana dimaksud pada huruf a, maka dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari setelah permohonan disampaikan kepada bagian penanaman modal deerah, Bupati menetapkan izin usaha.

 

Jenis-jenis perizinan

Perizinan dan non-perizinan yang menjadi urusan Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi yang didelegasikan kepada DPMPTSP adalah sebagai berikut (Bab IV Pasal 4 Peraturan Bupati Wakatobi No. 20 Tahun 2017):

 1.   Izin Prinsip Penanaman Modal; 
 2.  Izin Prinsip Perluasan Penanaman Modal; 
 3.  Izin Prinsip Perubahan Penanaman Modal; 
 4.  Izin Usaha Penanaman Modal; 
 5.  Izin Usaha Perluasan Penanaman Modal; 
 6.  Izin Usaha Perubahan Penanaman Modal; 
 7.  Izin Usaha Penggabungan Perusahaan Penanaman Modal; 
 8.  Izin Lokasi; 
 9.  Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
10.  Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK);
11.  Izin Gangguan (HO) dan/atau Izin Tempat Usaha (SITU);
12.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
13.  Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
14.  Izin Usaha Industri (IUI);
15.  Tanda Daftar Industri (TDI);
16.  Tanda Daftar Gudang (TDG);
17.  Izin Usaha Pusat Perbelanjaan;
18.  Izin Usaha Toko Swalayan;
19.  Izin Pengelolaan Pasar Tradisional;
20.  Tanda Daftar Usaha Jasa Perjalanan Wisata;
21.  Tanda Daftar Usaha Akomodasi;
22.  Tanda Daftar Usaha Jasa Makanan dan Minuman;
23.  Tanda Daftar Usaha Jasa Kawasan Parawisata;
24.  Tanda Daftar Usaha Jasa Transportasi Parawisata;
25.  Tanda Daftar Usaha Daya Tarik Wisata;
26.  Tanda Daftar Usaha Penyelenggaraan Hiburan dan Rekreasi;
27. Tanda Daftar Usaha Jasa Pramu Wisata;
28.  Tanda Daftar Usaha Jasa Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi dan Pameran;
29.  Tanda Daftar Usaha Jasa Konsultan Parawisata;
30.  Tanda Daftar Usaha Jasa Informasi Wisata;
31.  Tanda Daftar Usaha Wisata Tirta;
32.  Tanda Daftar Usaha SPA (perawatan kecantikan), Salon dan Pangkas Rambut (Barber Shop);
33.  Izin Usaha Angkutan;
34.  Izin Trayek Angkutan Pedesaan;
35.  Izin Layanan Penerbitan, Penyiaran TV/Radio dan TV Kabel;
36.  Izin Galian untuk keperluan kabel dan pipa bawah tanah;
37.  Izin Operasional Menara Telekomunikasi;
38.  Izin Usaha Layanan Internet/warung Internet;
39.  Izin Usaha Jasa Multimedia;
40.  Izin Usaha Jasa Layanan Wi-Fi Hotspot dan RT/RW net;
41.  Izin Usaha Perkebunan (IUP);
42.  Izin Usaha Pertanian Tanaman Pangan;
43. Izin Usaha Peternakan;
44. Izin Usaha Pemotongan Hewan;
45. Izin Usaha Peredaran Obat Hewan (toko/depo/kios).
46. Izin Praktek Medis/Para Medis Veteriner;
47.  Izin Tangki Timbun;
48.  Izin Penumpukan Gas Alam Cair/ELPIJI;
49.  Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP);
50.  Izin Operasional Rumah Sakit Kelas C dan D;
51.  Izin Operasional Rumah Sakit Bersalin;
52.  Izin Operasional Klinik Umum;
53.  Izin Operasional Laboratorium Kesehatan;
54.  Izin Kerja Dokter;
55.  Izin Praktek Dokter;
56.  Izin Kerja Bidan;
57.  Izin Praktek Bidan;
58.  Izin Kerja Perawat;
59.  Izin Praktek Perawat;
60-.  Izin Tukang Gigi;
61.  Izin Kerja Apoteker (SIKA);
62.  Izin Praktek Apoteker (SIPA);
63.  Izin Apotik;
64.  Izin Kerja Refraksionis Optisien;
65.  Izin Optikal;
66.  Izin Toko Obat;
67.  Izin Pengobatan Tradisional;
68.  Izin Praktek Fisioterapis;
69.  Izin Depot Isi Ulang Air Minum;
70.  Izin Produksi Makanan dan Minuman;
71.  Izin Lingkungan;
72.  Izin Pendirian Lembaga Pendidikan Ketrampilan Swasta (LPKS);
73.  Izin Tanda Daftar Lembaga Pendidikan Ketrampilan Swasta;
74.  Izin Penambahan Program Pelatihan kerja;
75.  Izin Perpanjangan Lembaga Pendidikan Kerja (LPK);
76.  Izin Kursus.



POTENSI DAN PELUANG INVESTASI

Kabupaten Wakatobi terletak pada posisi sangat strategis karena:


 1).  Perairan laut Kabupaten Wakatobi adalah merupakan salah satu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI-III) yang  menjadi sea lanes bagi jalur pelayaran kawasan Timur dan Barat Indonesia; 
 2).  Ditinjau dari sisi bioregion, letak geografis Kabupaten Wakatobi sangat penting karena berada pada kawasan yang sangat potensial yakni diapit oleh Laut Banda dan Laut Flores yang memiliki potensi Sumberdaya Keragaman Hayati Kelautan dan Perikanan yang cukup besar; dan
 3).  Kabupaten Wakatobi berada pada Pusat Kawasan Segi Tiga Karang Dunia (Coral Triangle Center) yang meliputi 6 (enam) negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua New Guine, Solomon, dan Timor Leste.

Strategi pembangunan daerah Kabupaten Wakatobi Tahun 2019 adalah merupakan tahapan pembangunan yang diarahkan untuk Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Lokal melalui Peningkatan Infrastruktur, Kualitas Sumber Daya Manusia dan Inovasi Daerah menuju Wakatobi yang Sejahtera dan Berdaya Saing dengan tetap melanjutkan tahapan sebelumnya yang lebih terarah dengan tetap mengutamakan dukungan pembangunan sumberdaya manusia yang berlandaskan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Wakatobi.

 

Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Tanaman Pangan dan Hortikultura.

Kawasan budidaya merupakan kawasan yang karena kondisi dan potensi fisik sumberdaya alamnya dapat dimanfaatkan guna kepentingan produksi dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Luas lahan pertanian tahun 2017 mencapai 51.323,8 ha atau 62,36% dari luas keseluruhan wilayah daratan Kabupaten Wakatobi dengan lahan terluas di Pulau Wangi-Wangi yaitu sekitar 15.941,3 ha (data BPS-2018).

Potensi Kawasan Pertanian Lahan Kering

Kawasan ini mencapai areal seluas 4.063,0 ha (tegal/kebun); 337,4 ha (ladang/huma) dan 32.975,8 ha (sementara tidak diusahakan). Adapun pemanfaatan kawasan pertanian lahan kering tersebut dominan diperuntukkan untuk usaha budidaya tanaman pangan yang secara historis sudah menjadi bahan makan pokok sebagian besar masyarakat Wakatobi. Pada tahun 2018, tiga produksi terbesar tanaman pangan di Kabupaten Wakatobi adalah ubi kayu sebesar 50.978 ton, ubi jalar sebesar 475 ton, dan jagung sebesar 280 ton, dimana ubi kayu memiliki produktivitas tertinggi yakni sebesar 20,40 ton per hektar. Sementara itu, untuk pertanian tanaman hortikultura, tiga produksi terbesar tanaman sayuran di Kabupaten Wakatobi adalah tanaman kangkung sebesar 350,7 ton, petsai/sawi sebesar 133,9 ton, dan bayam sebesar 120,2 ton.


Sementara untuk produksi buah-buahan, Kabupaten Wakatobi diunggulkan dengan produksi buah-buahan seperti mangga, pisang, dan nangka/cempedak. Hal ini dapat dilihat bahwa tiga produksi buah-buahan terbesar pada tahun 2018 adalah buah mangga sebesar 240,3 ton, buah pisang sebesar 118,5 ton, dan buah nangka/cempedak sebesar 104,9 ton. Untuk produksi tanaman biofarmaka/obat-obatan, Kabupaten Wakatobi diunggulkan dengan produksi mengkudu/pace sebesar 1.029 kilogram, kunyit sebesar 999 kilogram, dan jahe sebesar 579 kilogram (Data: Statistik Daerah Kabupaten Wakatobi 2019, BPS). Mengingat potensi lahan kering untuk pengembangan budidaya tanaman pangan dan hortikultura yang luasannya relatif sempit dan untuk mengimbangi meningkatnya kebutuhan pangan utama khas daerah serta sayuran dan buah-buahan, maka harus dilakukan intensifikasi tanaman pada lahan-lahan produktif melalui optimasi pola tanam dengan sistem tumpang sari (intercropping system) yang didukung dengan pengembangan irigasi air tanah (sumur bor) melalu sistem pengairan pipanisasi dengan pompa. Potensi lahan kering tersebut dapat juga dimanfaatkan untuk pengembangan peternakan dengan sistem pertanian terpadu (integrated farming system).

Kopi Kahiyanga
Petani Ubi Ungu di Wakatobi
Potensi Dan Pengelolaan Kawasan Pertanian Lahan Basah:
Potensi Dan Pengelolaan Kawasan Pertanian Lahan Basah:

Kegiatan pertanian lahan basah di Kabupaten Wakatobi masih sangat terbatas. Potensi pengembangan pertanian lahan basah khususnya persawahan terdapat di Pulau Kaledupa seluas kurang lebih 120 ha. Pengembangan pertanian lahan basah tersebut sejalan dengan pengembangan saluran irigasi untuk penunjang pencetakan sawah seluas 60 ha di wilayah Sombano.

Potensi Kawasan Perkebunan

Potensi pengembangan tanaman perkebunan mencapai luas 11.253,80 ha (20,91%) dari total luas kawasan budidaya atau sebesar 13,67% dari total luas daratan Wakatobi. Mengingat wilayah Kabupaten Wakatobi yang merupakan daerah pesisir, tanaman perkebunan kelapa masih mendominasi produksi tanaman perkebunan. Pada tahun 2018, produksi tanaman kelapa sebesar 2.651,74 ton, disusul dengan tanaman kopi sebesar 31,65 ton dan kakao sebesar 8,47 ton (Data: Statistik Daerah Kabupaten Wakatobi 2019, BPS). Pengembangan tanaman kelapa dan jambu mete dimungkinkan di semua kecamatan Kabupaten Wakatobi, tetapi yang sangat berpotensi untuk sentra pengembangan adalah di Kecamatan Kaledupa dan Kaledupa Selatan. Khusus tanaman pala, saat ini hanya terdapat di Kecamatan Wangi-Wangi dan Tomia.

Potensi Kawasan Peternakan:

Populasi ternak di Kabupaten Wakatobi (2017) adalah: 1.131 sapi potong; 9.753 kambing; 36.702 ayam kampong; 35.704 ayam pedaging; 5.422 ayam petelur; dan 6.142 itik.  Sesuai dengan potensinya, maka rencana pengembangan peternakan di Kabupaten Wakatobi diarahkan pada ternak besar, yaitu kambing dan sapi dengan tetap mempertahankan populasi ternak lainnya. Potensi lahan untuk penggembalaan ternak adalah seluas 1.759,5 ha. Rencana wilayah pengembangan Sektor Peternakan adalah di Pulau Kaledupa dan Tomia. Selain intensifikasi, pengembangan peternakan juga diarahkan pada sistem pertanian terpadu berbasis ekologi (integrated ecofarming system), yaitu mengintegrasikan peternakan ke dalam pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan kehutanan (agro-forestry pasteur).

Sektor Perikanan dan Kelautan

Sektor Perikanan dan Kelautan merupakan sektor unggulan daerah Kabupaten Wakatobi, selain Pariwisata. Pengembangan kegiatan perikanan dan kelautan diarahkan pada:

Kawasan Perikanan Tangkap

kawasan yang diperuntukkan bagi penangkapan ikan/perikanan dengan berbagai jenis ikan bernilai ekonomi tinggi seperti jenis ikan pelagis, ikan dasar, ikan sunu, teripang, dan gurita. Kawasan perikanan di perairan laut yang menjadi kewenangan dari Pemda Kabupaten Wakatobi adalah 4 (empat) mil dari pantai yang masuk dalam zona pemanfaatan lokal dan pemanfaatan umum  yang ada di perairan Pulau Wangi-wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia dan Pulau Binongko dengan luasan zona pemanfaatan lokal (ZPL) sekitar 804.000 ha dan zona pemanfaatan umum sekitar 495.700 ha (ZPU). Kabupaten Wakatobi yang merupakan daerah maritim menyebabkan sebagian besar penduduk Wakatobi memilih untuk mencari ikan. Oleh karenanya, produksi ikan di Kabupaten Wakatobi mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 produksi perikanan tangkap laut sebesar 12.763 ton meningkat pada tahun 2016 menjadi sebesar 13.401 ton, kemudian di tahun 2018 menjadi sebesar 14.571 ton.

Kawasan Budidaya Perikanan:

kawasan dengan kegiatan budidaya perikanan berupa keramba dan tambak yang berada di sepanjang area pantai pesisir pulau Kabupaten Wakatobi.

Budidaya perikanan di Wakatobi
Hasil Perikanan Dan Dukungan Infrastruktur:

Luas wilayah perairan laut Kabupaten Wakatobi mencapai sekitar 97% (18.377 km2) dari luas total keseluruhan kabupaten. Jenis/spesies ikan yang terdapat di perairan lautnya tidak kurang dari 942 jenis ikan. Potensi perikanan laut tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan teknologi alat tangkap maupun kapal atau perahu yang digunakan oleh nelayan lokal. Produksi perikanan tangkap Kabupaten Wakatobi selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang sangat signifikan yakni meningkat sebesar 12,214 ton atau sebesar 183,93% dari  produksi tahun 2011 sebesar 6.640,9 ton menjadi 18.855,3 ton pada tahun 2015. Produksi perikanan tangkap Kabupten Wakatobi selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata 3,053.59 ton per tahun atau meningkat rata-rata sebesar 33,93% per tahun. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2015 yakni meningkat sebesar 8,826,30 ton atau 88,01% dari capaian tahun sebelumnya sebesar 10.029 ton. Realisasi produksi perikanan tangkap Kabupaten Wakatobi pada tahun 2015 sebesar 18.855,3 ton  terdiri dari:

1.

Ikan pelagis sebanyak 10.892,9 ton (ikan pelagis kecil 7.347,8 ton dan ikan pelagis besar 3.545,1 ton) atau sebesar 57,77% dari total produksi. Produksi ikan pelagis kecil sebagian besar yakni 85,51% atau sebanyak 6.384,3 ton adalah layang biru sedangkan produksi ikan pelagis besar sebagian besar yakni 74,01% atau sebanyak 2.623,7 ton adalah tongkol krai dan sisa nya adalah tuna sebanyak 401,5 ton (11,33%), cakalang 413,4 ton (11,66%), tengiri 77,7 ton (2,19%), dan tongkol komo sebanyak 28,8 ton (0,81%),

2.

Ikan domersal sebanyak 7.386,2 ton atau sebesar 39,17%. Produksi ikan domersal yang bernilai ekonomis tinggi adalah kakap merah sebanyak 1.474,5 ton (19,96%), kerapu karang sebanyak 733,7 ton (9,93%), kerapu sunu sebanyak 277,8 ton (3,76%) dan ikan beronang 219,8 ton (2,98%), selebihnya adalah yang berlilai ekonomis sedang, yakni lencam (katamba) sebanyak 1.580,1 ton (21,39%) dan 41,97% atau sebanyak 3.100,3 ton dari ikan domersal lainnya,

3.

Binatang laut sebanyak 576,2 ton (lobster batik 0,6 ton, rajungan 32,4 ton, cumi-cumi 51,8 ton, gurita 409,4 ton dan lainnya 82,6 ton) atau sebesar 3,06% dari total produksi.  Demikian halnya produksi perikanan budidaya, yakni budidaya rumput laut juga meningkat sangat signifikan yakni meningkat sebesar 135,78% dari produksi tahun 2012 sebesar 1.063 ton menjadi 2.506,38 ton pada tahun 2015. Adapun jenis rumput laut yang banyak diusahan adalah Eucheuma Spinosum dengan volume produksi pada tahun 2015 sebesar 2.502 ton dan Eucheuma Cottoni dengan volume produksi sebesar 4,38 ton.

4.

Terumbu Karang: Kabupaten Wakatobi yang terletak di Pusat Segitiga Karang Dunia (World Coral Triangle Center) memiliki jenis/spesies terumbu karang terbanyak di dunia yaitu mencapai 750 spesies dari total 850 spesies yang ada di dunia atau mencapai 88%. Data tersebut mengindikasikan bahwa Kabupaten Wakatobi adalah tempat terbaik di dunia bagi tujuan menyelam (diving). Berdasarkan data BTNW-TNC/WWF Tahun 2006, terdapat 11 sumberdaya penting yang perlu dikelola sebagai modal pembangunan Kabupaten Wakatobi yakni: (1) terumbu karang cincin (atoll reef), (2) terumbu karang tepi (fringing reef), (3) terumbu karang penghalang (barrier reef), (4) gosong karang (patch reef), (5) bakau (mangrove), (6) daerah pemijahan ikan (spags), (7) padang lamun (seagrass), (8) daerah upwelling, (9) tempat bertelur burung pantai, (10) daerah terlihatnya paus dan lumba-lumba (cetacean); dan (11) pantai peneluran penyu.

Sektor Kehutanan
Kawasan Hutan Lindung

Sebaran lokasi kawasan hutan lindung di Kabupaten Wakatobi, dapat dibagi ke dalam 2 (dua) kawasan, yaitu (a) kawasan lindung darat dan (b) kawasan lindung laut. Kawasan lindung darat: Luas kawasan ini tersebar di semua wilayah kepulauan yaitu Pulau Wangi-Wangi (4.830 ha), Pulau Kaledupa (772,78 ha), Pulau Tomia (1.359,50 ha) dan Pulau Binongko (981 ha), sehingga luas kawasan lindung wilayah darat pulau-pulau utama adalah 7.943,28 ha dan luasan kawasan lindung Pulau Kapota dan pulau-pulau belum berpenghuni (Pulau Komponaone dan Pulau Sumanga) seluas 2.244 ha. Total kawasan lindung wilayah darat adalah 10.167,28 ha atau sekitar 12,35% dari luas wilayah daratan Kabupaten Wakatobi. Potensi pengembangan kawasan hutan lindung Kabupaten Wakatobi direncanakan sebesar 30% dari luas wilayah daratan sehingga luas kawasan lindung darat di Kabupaten Wakatobi diharapkan menjadi 24.690 ha atau bertambah seluas 14.552,72 ha dari luas kawasan lindung yang sudah ada. Kawasan lindung laut: Kawasan ini mencakup kawasan-kawasan terumbu karang dan pulau pulau kecil tidak berpenghuni dengan potensi kawasan seluas 1.837.700 ha.

Kawasan Hutan Lindung
Pulau Wangi Wangi
Kawasan Hutan Lindung
Pulau Binongko
Kawasan Hutan Lindung
Pulau Sumanga
Kawasan Hutan Lindung
Pulau Tomia
Kawasan Hutan Lindung
Pulau Kapota
Kawasan Hutan Lindung
Pulau Komponaone
Kawasan Resapan Air

Untuk menentukan suatu wilayah ke dalam jenis kawasan dapat dilihat dari jenis batuannya. Untuk wilayah Kabupaten Wakatobi yang memiliki topografi bukit dengan susunan struktur geologi didominasi batuan gamping, potensi daerah resapan air untuk cadangan air sangat tinggi terutama pada gua-gua air yang tersebar di setiap kecamatan. Kawasan DAS juga berperan sebagai kawasan resapan air. Upaya perlindungan dan pelestarian terhadap kawasan resapan air di Kabupaten Wakatobi diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan ekosistem dan sebagai kawasan penyimpan cadangan air.

Kawasan Sempadan Sungai

kawasan di sepanjang sungai sekurang-kurangnya antara 50-100 m di kiri dan kanan sungai, bila di luar permukiman. Sedangkan di daerah permukiman seperti halnya di Kota Wangi-Wangi, sempadan sungai ini diperkirakan seluas 10-15m sebagai daerah bebas dari kegiatan manusia atau permukiman penduduk. Alur sungai khusus terdapat di wilayah Kecamatan Wangi-Wangi, Wangi-Wangi Selatan dan Kecamatan Kaledupa dan Kaledupa Selatan bentangannya tidak terlalu lebar. 

Kawasan Pantai Berhutan Bakau

kawasan pantai berhutan bakau yang mempunyai fungsi perlindungan dan konservasi tersebar di Pulau Kaledupa dan sebagian Pulau Binongko.

Kawasan Sempadan Pantai

kawasan di sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Kawasan sempadan pantai di Kabupaten Wakatobi terdapat di semua kecamatan pada setiap pulau.

Kawasan Suaka Alam

Alokasi kawasan Suaka Alam (Cagar Alam) ditujukan untuk melindungi satwa tertentu (penyu dan satwa burung laut) di sekitar Pulau Moromaho Kecamatan Togo Binongko dengan luasan zona inti seluas 1.300 ha.

Kawasan Taman Wisata Alam Laut

terdapat hampir di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Wakatobi. Kawasan yang diarahkan untuk daerah perlindungan laut/bahari dan taman wisata laut/bahari meliputi karang atol Kaledupa Anano, ujung Runduma, Karang Runduma, Kenteolok, Tuwutuwu, Karang Koko, Moromaho, Lentea, Darawa, Utara Kaledupa, Buranga, Lentea- Kaledupa, Karang Gurita, Matahora. Adapun luasan kawasan taman wisata Laut/perlindungan bahari yang dimaksud adalah seluas 36.450 ha.

Taman Nasional Laut Wakatobi

Kawasan Kepulauan Wakatobi dan perairan di sekitarnya seluas ± 1.390.000 ha, terdiri dari 4 (empat) pulau besar (Pulau Wangi-Wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia dan Pulau Binongko) yang terbagi menjadi 5 (lima) kecamatan dalam wilayah administratif Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara. Taman Nasional Wakatobi (TNLW) dikelola dengan sistem zonasi terdiri atas: zona inti (meliputi wilayah perairan dan sebagian daratan Pulau Moromaho seluas ± 1.300 ha yang memiliki potensi dan keterwakilan sumberdaya yaitu ekosistem mangrove, habitat burung, dan pantai peneluran penyu yang mutlak dilindungi dan tertutup dari berbagai macam aktivitas manusia untuk menjaga keutuhan dan kelestarian ekosistem asli dan fungsi ekologisnya); zona pelindung meliputi sebagian wilayah karang penghalang bagian timur Pulau Wangi-Wangi, karang Pasiroka, bagian Utara dan Timur Pulau Kaledupa, perairan bagian Selatan Pulau Lentea Utara, perairan bagian Utara Pulau Darawa, bagian Selatan Karang Tomia/Kaledupa, pantai dan perairan Pulau Anano, perairan bagian Tenggara Pulau Runduma, karang Runduma, perairan Pulau Kenteole, perairan Pulau Cowo-Cowo/Tuwu-Tuwu, karang Koko dan perairan Pulau Moromaho di luar zona inti seluas ± 36.450 ha); zona pariwisata (meliputi wilayah perairan bagian Timur Pulau Wangi-Wangi (barrier reef), perairan dan pantai bagian Barat Pulau Hoga, perairan Tanjung Sombano, mangrove di pesisir Sombano-Mantigola Pulau Kaledupa, mangrove di pesisir Pulau Darawa, perairan bagian Barat Waha Pulau Tomia, perairan sekitar Pulau Tolandono Tomia/Onemobaa, dan sebagian wilayah bagian Tengah ke arah Selatan karang Koromaho, karang bagian Barat, Utara dan Selatan karang Tomia, bagian Tenggara karang Kapota, perairan bagian Utara dan Selatan Pulau Binongko serta Karang Otiolo yang merupakan lokasi di wilayah perairan Kepulauan Wakatobi yang selama ini telah menjadi daerah tujuan wisata serta menjadi sasaran pengembangan pariwisata Kabupaten Wakatobi seluas 6.180 ha); zona pemanfaatan lokal (meliputi sebagian besar wilayah perairan pesisir Kepulauan Wakatobi, selain peruntukan zona lainnya dalam radius ± 4 mil dari Pulau Wangi-Wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, Pulau Binongko, Pulau Runduma, Pulau Kapota, Pulau Komponaone, Pulau Nuabalaa, Pulau Nuaponda, Pulau Matahora, Pulau Sumanga, Pulau Oroho, Pulau Ndaa dan sebagian besar wilayah karang Kapota, karang Kaledupa, karang Tomia, dan wilayah laut ke arah Utara karang Koromaho seluas 804.000 ha); zona pemanfaatan umum (meliputi sebagian besar wilayah perairan di luar radius ± 4 mil dari pulau-pulau dan gugusan terumbu karang di Wakatobi seluas 495.700 ha); dan zona daratan/khusus (meliputi Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko, Runduma, Anano, Kapota, Komponaone, Hoga, Lentea, Darawa, Lentea Selatan, Sawa, Kenteole, Tuwu-Tuwu, dan sebagian Pulau Moromaho seluas ± 46.370 ha).

Sektor Pariwisata

Sektor Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan Kabupaten Wakatobi. Jenis pariwisata yang dikembangkan adalah pariwisata bahari berupa panorama pantai dan laut, potensi terumbu karang, ombak untuk olah raga air serta dinamika kehidupan nelayan, wisata alam (panorama pegunungan, goa-goa bawah tanah), wisata seni dan budaya dan wisata buatan lainnya.  Seiring dengan semakin menggeliatnya pariwisata di Kabupaten Wakatobi jumlah wisatawan baik mancanegara dan domestik semakin meningkat tiap tahunnya. Jumlah wisatawan pada tahun 2018 sebanyak 29.408 wisatawan terdiri dari 6.997 wisatawan Mancanegara dan 22.419 wisatawan domestik. Jumlah tersebut meningkat sekitar 6,70% dibanding jumlah wisatawan di tahun 2017. Jumlah penginapan di Wakatobi Tahun 2019 sebanyak 52 unit, terdiri dari hotel,  wisma, dan penginapan dengan 570 kamar dan 678 tempat tidur. Daerah di Wakatobi yang belum memiliki fasilitas hotel seperti di luar Pulau Wangi-Wangi tersedia homestay. Pada Tahun 2019 terdapat 298 homestay dengan 522 kamar; 11 Travel Agent; 21 Dive Centers; 27 Salon & Spa; dan 17 Karaoke & HM.


Obyek wisata atau event wisata yang banyak dikunjungi adalah wisata bahari yaitu Pantai One Mobaa di Pulau Tomia, menyusul Pantai Hoga di Pulau Kaledupa, Pantai Kapota dan pantai di Pulau Wangi-Wangi dan wisata budaya, yaitu pesta adat Kabuenga dan Karia’a di Pulau Wangi-Wangi. Pengembangan kepariwisataan Kabupaten Wakatobi ke depan akan semakin terarah karena pada 2015 Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi telah membuat road map pengembangan kepariwisataan yang lebih menitik beratkan pada lokus pengembangan kewilayahan yang dikenal dengan istilah Daerah Pengembangan Kepariwisataan (DPK) sebanyak empat DPK, Kawasan Pengembangan Pariwisata Daerah (KPPD) sebanyak 20 KPP dan Kawasan Strategis Pengembangan Daerah (KSPD) 1.300 ha (suaka alam; sebanyak enam KPSD. Berdasarkan data Statistik Daerah Kabupaten Wakatobi Tahun 2019 terdapat 193 Wisata Alam dan 439 Wisata Budaya. Kabupaten Wakatobi berada di urutan 5 untuk Wisata Pantai, urutan 3 untuk Wisata Bentang Laut dan urutan 2 untuk Wisata Bawah Laut.

Seni Budaya

Kabupaten Wakatobi memiliki seni dan budaya beragam. Seni tari khas daerah dan ataraksi budaya lokal Wakatobi sudah sering ditampilkan terutama dalam menjamu tamu kehormatan di daerah maupun pada berbagai event festival seni dan budaya baik di dalam negeri maupun diluar negeri. Seni tari khas daerah, pesta adat dan atraksi budaya lokal yang dimaksud adalah: Tari Lariangi, Tari Sajo Moane, Tari Balumpa, Tari Kenta-Kenta, Pesta Adat Karia’a, Pesta Adat Kabuenga dan Atraksi Budaya Posepa’a.

Kawasan Cagar Budaya

Kawasan Cagar Budaya diantaranya peninggalan sejarah berupa kompleks bangunan peninggalan kerajaan yang mempunyai nilai historis yang cukup tinggi dan perlu dipertahankan keberadaannya. Lokasi kawasan ini terdapat di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Wakatobi.

Dalam mendukung pengembangan dan pelestarian seni dan budaya khas daerah Wakatobi, pemerintah daerah Kabupaten Wakatobi selama empat tahun terakhir cukup aktif menyelenggarakan dan mengikuti festival seni dan budaya, yakni rata-rata 7 kali setiap tahun. Untuk melestarikan dan mengembangkan potensi kesenian/tarian khas daerah sampai tahun 2015 juga telah tersedia wadah/fasilitas penyelenggaraan seni dan budaya yakni 23 sanggar seni dan 1 (satu) pesanggrahan budaya. Sementara ketersediaan sarana untuk mendukung pengembangan bakat generasi muda pada bidang olahraga, seperti gelanggang/balai remaja belum ada. Sarana olahraga yang ada sampai tahun 2015 adalah lapangan, yakni lapangan sepakbola sebanyak 10 unit, lapangan basket sebanyak 4 unit, apangan volley sebanyak 54 unit, lapangan bulu tangkis sebanyak 25 unit.

Kabupaten Mamasa
Tabulasi Data Bidang Usaha Unggulan Daerah Kabupaten Wakatobi Untuk Kegiatan Investasi
PMA & PMDN
DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN WAKATOBI
Peta Kabupaten Wakatobi
Kontak Investasi :

Kabupaten Wakatobi

DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN WAKATOBI

Jl. La Ode Ali No.5 Kompleks Perkantoran Manugela Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi
Provinsi Sulawesi Tenggara
Email : ptspwakatobi@gmail.com, saoruddin2015@gmail.com
Telp. 085213213594

Back to top
Go to bottom
iden
240960
TodayToday888
YesterdayYesterday1289
This_WeekThis_Week10163
This_MonthThis_Month24192
All_DaysAll_Days240960

Free Joomla! template by L.THEME