Gubernur dan Wakil Gubernur
Nova Iriansyah Defenitif
idarenfrdehihujakoru
PROVINSI ACEH
Sejarah

Asal nama

Aceh pertama dikenal dengan nama Aceh Darussalam (1511–1945). Provinsi ini dibentuk pada 1956 dengan nama Aceh sebelum diubah menjadi Daerah Istimewa Aceh (1959–2001), Nanggroe Aceh Darussalam (2001–2009), dan kembali ke Aceh sejak 2009. Sebelumnya, nama Aceh biasa ditulis AchehAtjeh, dan Achin.

Zaman prasejarah

 
Bukit kerang dari masa prasejarah di Aceh Tamiang

Aceh telah dihuni manusia sejak zaman Mesolitikum, hal ini dibuktikan dengan keberadaan situs Bukit Kerang yang diklaim sebagai peninggalan zaman tersebut di kabupaten Aceh Tamiang. Selain itu pada situs lain yang dinamakan dengan Situs Desa Pangkalan juga telah dilakukan ekskavasi serta berhasil ditemukan artefak peninggalan dari zaman Mesolitikum berupa kapak Sumatralith, fragmen gigi manusia, tulang badak, dan beberapa peralatan sederhana lainnya. Selain di kabupaten Aceh Tamiang, peninggalan kehidupan prasejarah di Aceh juga ditemukan di dataran tinggi Gayo tepatnya di Ceruk Mendale dan Ceruk Ujung Karang yang terdapat disekitar Danau Laut Tawar. Penemuan situs prasejarah ini mengungkapkan bukti adanya hunian manusia prasejarah yang telah berlangsung disini pada sekitar 7.400 hingga 5.000 tahun yang lalu.

Zaman kerajaan

Zaman kerajaan Hindu-Buddha

 
Arca Awalokiteswara bergaya Sriwijaya yang ditemukan di Aceh diperkirakan dari abad ke-9. Sekarang tersimpan di Museum Nasional Indonesia.

Sebagaimana daerah lain di kepulauan Nusantara, Aceh juga pernah mengalami masa berkembangnya agama Hindu dan Buddha yang datang dari daratan benua Asia Selatan (India). Pada masa itu di Aceh telah diwarnai dengan adanya beberapa kerajaan-kerajaan yang berdasarkan agama tersebut misalnya Kerajaan Indrapuri, Kerajaan Indrapatra dan Kerajaan Indrapurwa semuanya di Aceh Besar yang menganut kepercayaan Hindu dan dipengaruhi oleh India. Selain itu, Aceh juga dulu termasuk bagian dari kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang pernah berjaya di Nusantara ribuan tahun lalu seperti Sriwijaya.

Masuknya Islam

 
Letak Kerajaan Samudra Pasai

Masih terjadi silang pendapat terkait persoalan dari sejak kapan Islam pertama sekali disebarkan ke Aceh. Sebagian berpandangan sudah dimulai dari sejak masa kekhalifahan Utsman bin Affan[17] sebagai khalifah ketiga setelah kerasulan Muhammad SAW.

Terkait Islam yang datang ke Aceh, Snouck Hurgronje dengan teori Gujaratnya menyebut Islam yang datang ke sana bukanlah Islam yang dibawa Muhammad, tetapi Islam yang sudah berkembang matang. Bukan Islam dari al Quran dan Hadits, melainkan Islam dengan kitab-kitab Fiqh dan dogmanya dari 3 abad kemudian.

Sebagian lagi, ada yang berpandangan bahwa Islam yang datang ke Aceh justru sudah dimulai dari sejak tahun pertama Hijriyah (618 M). Satu pandangan yang menurut penulis buku Tasawuf Aceh merupakan pandangan tidak masuk akal. Alasan yang dikemukakannya adalah pada masa tersebut; ada kevakuman antara wahyu pertama (610 M) dengan wahyu kedua kepada Muhammad selama 2,5 tahun. Ditambah dengan masa berdakwah secara sembunyi-sembunyi yang dilakukan Muhammad selama 3 tahun. Dengan demikian baru pada tahun ke-7 masa kenabiannya baru dimulai dakwah secara terang-terangan.Tetapi sedikitnya persoalan demikian bisa ditelusuri dari keberadaan kerajaan pertama bercorak Islam di Aceh, Kerajaan Peureulak yang didirikan pada 1 Muharram 225 Hijriyah.

Kesultanan Aceh

 
Wilayah Kesultanan Aceh pada masa jayanya

Kesultanan Aceh merupakan kelanjutan dari Kesultanan Samudra Pasai yang hancur pada abad ke-14. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatra dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.

 
Gunongan merupakan warisan sejarah Kesultanan Aceh yang didirikan oleh Sultan Iskandar Muda untuk permaisuri beliau Putri Khamalia dari Kesultanan Pahang.

Aceh Darussalam pada zaman kekuasaan zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam (Sultan Aceh ke 19), merupakan negeri yang amat kaya dan makmur. Menurut seorang penjelajah asal Prancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh pada zaman tersebut, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau hingga Perak. Kesultanan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di dunia Barat pada abad ke-16, termasuk Inggris, Ottoman, dan Belanda.

Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan sejak awal abad ke-16, pertama dengan Portugal, lalu sejak abad ke-18 dengan Britania Raya (Inggris) dan Belanda. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu kepada Britania Raya.

 
Makam Sultan Iskandar Muda

Pada tahun 1824, Persetujuan Britania-Belanda ditandatangani, di mana Britania menyerahkan wilayahnya di Sumatra kepada Belanda. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun 1871, Britania membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah Prancis dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut.

Perang Aceh

 
Mayor Jenderal J.H.R. Kohler tewas ditembak di bawah pohon kelumpang di depan Masjid Raya Baiturrahman dalam Perang Aceh I

Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873, dimulai dari kedatangan Jenderal J.H.R Kohler dengan jumlah pasukan sebanyak 3.198, termasuk 168 perwira KNIL.[21]

Setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh. Bahkan, pada hari pertama perang berlangsung, 1 unit kapal perang Belanda, Citadel van Antwerpen harus mengalami 12 tembakan meriam dari pasukan Aceh.[22]

Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang ahli yang berpura-pura masuk Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, Joannes Benedictus van Heutsz dinyatakan sebagai gubernur Aceh, dan bersama letnannya, Hendrikus Colijn, merebut sebagian besar Aceh.

Sultan M. Dawud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh pada tahun 1904. Saat itu, Ibu kota Aceh telah sepenuhnya direbut Belanda. Namun perlawanan masih terus dilakukan oleh Panglima-panglima di pedalaman dan oleh para Ulama Aceh sampai akhirnya jepang masuk dan menggantikan peran belanda. Perang Aceh adalah perang yang paling banyak merugikan pihak Belanda sepanjang sejarah penjajahan Nusantara.

Masa penjajahan

Bangkitnya nasionalisme

 
Replika pesawat Dakota RI-001 Seulawah sumbangan rakyat Aceh di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh

Sementara pada masa kekuasaan Belanda, bangsa Aceh mulai mengadakan kerja sama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia dan terlibat dalam berbagai gerakan nasionalis dan politik. Aceh kian hari kian terlibat dalam gerakan nasionalis Indonesia. Saat Volksraad (parlemen) dibentuk, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh. (Nyak Arif lalu dilantik sebagai gubernur Aceh oleh gubernur Sumatra pertama, Mr. Teuku Muhammad Hasan).

Saat Jepang mulai mengobarkan perang untuk mengusir kolonialis Eropa dari Asia, tokoh-tokoh pejuang Aceh mengirim utusan ke pemimpin perang Jepang untuk membantu usaha mengusir Belanda dari Aceh. Negosiasi dimulai pada tahun 1940. Setelah beberapa rencana pendaratan dibatalkan, akhirnya pada 9 Februari 1942 kekuatan militer Jepang mendarat di wilayah Ujong Batee, Aceh Besar. Kedatangan mereka disambut oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh dan masyarakat umum. Masuknya Jepang ke Aceh membuat Belanda terusir secara permanen dari tanah Aceh.

Awalnya Jepang bersikap baik dan hormat kepada masyarakat dan tokoh-tokoh Aceh, dan menghormati kepercayaan dan adat istiadat Aceh yang bernafaskan Islam. Rakyat pun tidak segan untuk membantu dan ikut serta dalam program-program pembangunan Jepang. Namun ketika keadaan sudah membaik, pelecehan terhadap masyarakat Aceh khususnya kaum perempuan mulai dilakukan oleh personel tentara Jepang. Rakyat Aceh yang beragama Islam pun mulai diperintahkan untuk membungkuk ke arah matahari terbit di waktu pagi, sebuah perilaku yang sangat bertentangan dengan akidah Islam. Karena itu pecahlah perlawanan rakyat Aceh terhadap Jepang di seluruh daerah Aceh. contoh yang paling terkenal adalah perlawanan yang dipimpin oleh Teungku Abdul Jalil, seorang ulama dari daerah Bayu, dekat Lhokseumawe.

Pasca kemerdekaan Indonesia

 
Teungku Muhammad Daud Beureu'eh, ulama pemimpin perjuangan DI/TII Aceh

Sejak tahun 1976, organisasi pembebasan bernama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah berusaha untuk memisahkan Aceh dari Indonesia melalui upaya militer. Pada 15 Agustus 2005, GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya menandatangani persetujuan damai sehingga mengakhiri konflik antara kedua pihak yang telah berlangsung selama hampir 30 tahun.

Pada 26 Desember 2004, sebuah gempa bumi besar menyebabkan tsunami yang melanda sebagian besar pesisir barat Aceh, termasuk Banda Aceh, dan menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa.

Di samping itu, telah muncul aspirasi dari beberapa wilayah Aceh, khususnya di bagian barat, selatan dan pedalaman untuk memisahkan diri dari Aceh dan membentuk provinsi-provinsi baru.

Darul Islam / Tentara Islam Indonesia

Aceh yang semula bergabung dengan Indonesia dengan jaminan Soekarno akan menerapkan syariat Islam, merasa kecewa karena syariat Islam tidak dijadikan sebagai landasan negara. Sehingga pada tanggal 13 Muharram 1372 H/21 September 1953 M, Teungku Muhammad Daud Beureu'eh atas nama rakyat Aceh mengumumkan bergabung dengan Negara Islam Indonesia yang didirikan oleh Kartosoewirjo.[23]

Gerakan Aceh Merdeka

 
Panglima GAM, Teungku Abdullah Syafi'i bersama laskar Inong Balee

Pasca Gempa dan Tsunami 2004, yaitu pada 2005, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka sepakat mengakhiri konflik di Aceh. Perjanjian ini ditandatangani di Finlandia, dengan peran besar daripada mantan petinggi Finlandia, Martti Ahtisaari.

Iklim

Sebagai wilayah yang berada tidak jauh dari garis khatulistiwa, iklim di Aceh hampir seluruhnya tropis. Pada wilayah pesisir pantai suhu udara rata-rata 26,9 °C, suhu udara maksimum mencapai 32,5 °C dan minimum 22,9 °C. Kelembaban relatif daerah ini berkisar antara 70 dan 80 persen. Antara bulan Maret sampai Agustus Aceh mengalami fase musim kemarau, kondisi ini dipengaruhi oleh massa udara benua Australia. Sementara musim hujan berlangsung antara bulan September hingga Februari yang dihasilkan dari massa udara daratan Asia dan Samudra Pasifik. Aceh memiliki curah hujan yang bervariasi berkisar antara 1.500-2.500 mm per tahun.

CiutkanData iklim Aceh
BulanJanFebMarAprMeiJunJulAgtSepOktNovDesTahun
Rata-rata harian °C (°F) 27.01
(80.62)
26.88
(80.38)
27.02
(80.64)
27.30
(81.14)
27.89
(82.2)
27.99
(82.38)
27.76
(81.97)
27.56
(81.61)
27.12
(80.82)
26.72
(80.1)
26.54
(79.77)
26.86
(80.35)
27.221
(80.998)
Presipitasi mm (inci) 256
(10.08)
114
(4.49)
117
(4.61)
139
(5.47)
143
(5.63)
84
(3.31)
95
(3.74)
90
(3.54)
161
(6.34)
200
(7.87)
225
(8.86)
321
(12.64)
−75
(−2.95)
Rata-rata hari hujan 8.5 5.9 7.8 8.8 12.4 10.3 9.2 10.6 12.5 15.5 14.3 12.7 128.5
Sumber: Gaisma.com
Geografi

Aceh menempati wilayah ujung paling barat di pulau Sumatra dan Negara Indonesia, di mana titik terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia terletak di Pulau Rondo, sementara itu kilometer Nol Indonesia berada di pulau Weh. Secara geografis Aceh terletak antara 2° - 6° lintang utara dan 95° – 98° lintang selatan dengan ketinggian rata-rata 125 meter diatas permukaan laut. Batas batas wilayah Aceh, sebelah utara dan timur berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah selatan adalah satu-satunya perbatasan darat dengan Sumatra Utara dan sebelah barat dengan Samudera Hindia.

Luas Aceh 5.677.081 ha, dengan hutan sebagai lahan terluas yang mencapai 2.290.874 ha, diikuti lahan perkebunan rakyat seluas 800.553 ha. Sedangkan lahan industri mempunyai luas terkecil yaitu 3.928 ha. Cakupan wilayah Aceh terdiri dari 119 pulau, 35 gunung dan 73 sungai utama.

Demografi

Etnis bangsa

 
Rambu peringatan tsunami dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Aceh

Aceh memiliki 13 etnis bangsa asli. Yang terbesar adalah etnis Aceh yang mendiami wilayah pesisir mulai dari Langsa di pesisir timur utara sampai dengan Trumon di pesisir barat selatan. Etnis lain nya adalah etnis Gayo, (Gayo Lut, Gayo Luwes, Gayo Serbejadi) yang mendiami wilayah pegunungan di tengah Aceh. Selain itu juga dijumpai etnis-etnis lainnya seperti, etnis Jamèë di Aceh Selatan, etnis Singkil dan etnis Pakpak di Subulussalam, Singkil dan etnis Alas di Aceh Tenggara, etnis Kluet di Aceh Selatan dan etnis Tamiang di Aceh Tamiang, dan di Pulau Simeulue terdapat etnis Sigulai.

Hasil sensus penduduk tahun 2000 menunjukkan hasil sebagai berikut: Aceh (50,32%), Jawa (15,87%), Gayo (11,46%), Alas (3,89%), Singkil (2,55%), Simeulue (2,47%), Batak (2,26%), Minangkabau (1,09%), lain-lain (10,09%) Namun sensus tahun 2000 ini dilakukan ketika Aceh dalam masa konflik sehingga cakupannya hanya menjangkau kurang dari setengah populasi Aceh saat itu. Masalah paling serius dalam pencacahan ditemui di kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara, dan tidak ada data sama sekali yang dikumpulkan dari kabupaten Pidie. Ketiga kabupaten ini merupakan kabupaten dengan mayoritas etnis Aceh.

Berdasarkan sensus 2010 di peroleh hasil 10 etnis bangsa terbesar di Aceh, yaitu:

NoEtnisJumlahPersentase
1 Aceh 3.160.728 70,65
2 Jawa 399.976 8,94
3 Gayo 322.996 7,22
4 Batak 147.295 3,29
5 Alas 95.152 2,13
6 Simeulue 66.495 1,49
7 Jamèë 62,838 1,40
8 Tamiang 49.580 1,11
9 Singkil 46.600 1,04
10 Minangkabau 33.112 0,74
11 Lain-lain 89.172 1,99
Bahasa

Bahasa yang paling banyak dipakai di Aceh adalah Aceh yang dituturkan oleh etnis Aceh di sepanjang pesisir Aceh dan sebagian pedalaman Aceh. Bahasa lain nya adalah Bahasa Gayo di Aceh bagian tengah, Bahasa Alas di Aceh Tenggara, Bahasa Aneuk Jamee di Aceh Selatan, Bahasa Singkil dan Bahasa Pakpak di Aceh Singkil, Bahasa Kluet di Aceh Selatan, Bahasa Melayu Tamiang di Aceh Tamiang, Di Simeulue bagian utara dijumpai Bahasa Sigulai dan Bahasa Lekon, sedangkan di selatan simeulue di jumpai Bahasa Devayan, Bahasa Haloban.

NoEtnisJumlahPersentase
1 Aceh 3.160.728 70,65
2 Jawa 399.976 8,94
3 Gayo 322.996 7,22
4 Batak 147.295 3,29
5 Alas 95.152 2,13
6 Simeulue 66.495 1,49
7 Jamèë 62,838 1,40
8 Tamiang 49.580 1,11
9 Singkil 46.600 1,04
10 Minangkabau 33.112 0,74
11 Lain-lain 89.172 1,99
Agama

Agama

Agama di Aceh (2010)
Agama     Persentase  
Islam
  
98.19%
Protestan
  
1.12%
Katolik
  
0.07%
Buddha
  
0.16%
Hindu
 
0.003%
Konghucu
 
0.0008%

Mayoritas penduduk Aceh menganut agama Islam dan Syariah Islam menjadi hukum positif di daerah istimewa Aceh. Agama lain yang dianut oleh penduduk Aceh adalah agama Kristen yang dianut oleh pendatang beretnis Batak dan sebagian warga keturunan Tionghoa yang kebanyakan beretnis Hakka. Sedangkan sebagian lainnya tetap menganut agama Konghucu.

Selain itu Aceh memiliki keistimewaan dibandingkan dengan provinsi yang lain, karena di Aceh Syariat Islam diberlakukan kepada sebagian besar warganya yang menganut agama Islam, berdasar UU No.18/2001. Kalangan intelektual Aceh sendiri masih memperdebatkan apakah yang diberlakukan di Aceh sudah benar-benar syariat atau itu cuma karena alasan politis saja.

Alasan yang juga kemudian disebutkan adalah kondisi konkret ketika itu berkenaan dengan politik, polemik di kalangan jumhur ulama soal bisa tidaknya hukum Islam diproduksi pasca kenabian selain persoalan dualisme aliran dalam Islam, dua aliran besar dalam tradisi tafsir hukum Islam.

GPIB di Banda Aceh
Vihara Dharma Bhakti di Banda Aceh
Gereja Katolik Hati Kudus di Banda Aceh
Kuil Hindu Palani Andawar di Banda Aceh
NoEtnisJumlahPersentase
1 Aceh 3.160.728 70,65
2 Jawa 399.976 8,94
3 Gayo 322.996 7,22
4 Batak 147.295 3,29
5 Alas 95.152 2,13
6 Simeulue 66.495 1,49
7 Jamèë 62,838 1,40
8 Tamiang 49.580 1,11
9 Singkil 46.600 1,04
10 Minangkabau 33.112 0,74
11 Lain-lain 89.172 1,99
Pendidikan

Pendidikan

 
Gedung rektor Unsyiah

Dalam hal pendidikan, sebenarnya provinsi ini mendapatkan status Istimewa selain dari D.I. Yogyakarta. Akan tetapi perkembangan yang ada tidak menunjukkan kesesuaian antara status yang diberikan dengan kenyataannya. Pendidikan di Aceh dapat dikatakan terpuruk. Salah satu yang menyebabkannya adalah konflik Aceh yang berkepanjangan, lalu musibah gempa dan tsunami serta penganaktirian oleh Pemerintah Pusat, dengan sekian ribu sekolah dan institusi pendidikan lainnya menjadi korban. Pada Ujian Akhir Nasional 2005 ada ribuan siswa yang tidak lulus dan terpaksa mengikuti ujian ulang.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Aceh terus berusaha keras untuk mendongkrak dan membangkitkan taraf pendidikan di Aceh. Peningkatan mutu pendidikan merupakan upaya untuk mewujudkan "Aceh Caroeng / Aceh Hebat", sehingga pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang dilaksanakan pada tahun 2019 di Aceh tersebut dinyatakan sebagai satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang menyelenggarakan UNBK 100 persen.

Aceh juga memiliki sejumlah perguruan tinggi yaitu:

 
Tugu Darussalam yang menandakan pendirian Kopelma Darussalam

Perguruan Tinggi Negeri ;

Universitas:
  • Universitas Syiah Kuala
  • Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
  • Universitas Malikussaleh, Aceh Utara
  • Universitas Samudra Langsa
  • Universitas Teuku Umar, Meulaboh
  • Universitas Terbuka, Aceh
Institut:
  • Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe
  • Institut Agama Islam Negeri Langsa
  • Institut Agama Islam Negeri Takengon[59]
  • Institut Seni Budaya Indonesia Aceh
Politeknik:
  • Politeknik Negeri Lhokseumawe
Sekolah Tinggi:
  • Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Teungku Dirundeng Meulaboh
Akademi:
  • Akademi Kesehatan, Aceh Utara

Perguruan Tinggi Swasta ;

Universitas:
  • Universitas Abulyatama
  • Universitas Almuslim
  • Universitas Muhammadiyah Aceh
  • Universitas Iskandar Muda
  • Universitas Sains Cut Nyak Dhien, Kota Langsa
  • Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, Bireuen dan Lhokseumawe
  • Universitas Serambi Mekkah
  • Universitas Jabal Ghafur
  • Universitas Gajah Putih, Aceh Tengah
  • Universitas Gunung Leuser
  • Universitas U'budiah Indonesia, Banda Aceh
Politeknik:
  • Politeknik Aceh
  • Politeknik Aceh Selatan
  • Politeknik Indonesia Venezuela
  • Politeknik Kesehatan Aceh
  • Politeknik Kutaraja
  • Politeknik Pelayaran Malahayati
Sekolah Tinggi:
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banda Aceh
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sabang
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPHB
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ubudiyah
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Bangsa
  • STKIP Bina Bangsa Getsempena
  • STKIP An-Nur Nanggroe Aceh
  • STKIP Al-Washliyah
  • STMIK Abulyatama
  • STMIK Ubudiyah
  • Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Banda Aceh
  • Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Iskandar Thani
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pante Kulu
  • Sekolah Tinggi Teknik Bina Cendikia Indonesia
  • STISIP Al-Washliyah Banda Aceh
  • Sekolah Tinggi Ilmu Psikologi Harapan Bangsa
  • STIKES Medika Nurul Islam
  • STIE Kebangsaan Bireuen
  • STIKES Muhammadiyah Lhokseumawe
  • STIKES Bumi Persada Lhokseumawe
  • STIE Bumi Persada Lhokseumawe
  • STIKES Darussalam Lhokseumawe
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Lhokseumawe
  • STMIK Bina Bangsa
  • Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Nasional
  • STIKES Getsempena Lhoksukon
  • STIKES Bina Nusantara
  • STIKES Cut Nyak Dhien Langsa
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Langsa
  • Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Pase
  • STIKES Bina Bangsa Kuala Simpang
  • STIKES Payung Negeri Aceh Darussalam
  • STKIP Muhammadiyah Aceh Tengah
  • Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Takengon
  • STIKES Nurul Hasanah, Kutacane
  • STKIP Usman Safri
  • STIKES Medica Seramoe Barat
  • STKIP Bina Bangsa Meulaboh
  • Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Indonesia Meulaboh
  • Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Pelita Nusantara
  • STKIP Muhammadiyah Aceh Barat Daya
Akademi:
  • Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda,Banda Aceh
  • Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda, Lhokseumawe
NoEtnisJumlahPersentase
1 Aceh 3.160.728 70,65
2 Jawa 399.976 8,94
3 Gayo 322.996 7,22
4 Batak 147.295 3,29
5 Alas 95.152 2,13
6 Simeulue 66.495 1,49
7 Jamèë 62,838 1,40
8 Tamiang 49.580 1,11
9 Singkil 46.600 1,04
10 Minangkabau 33.112 0,74
11 Lain-lain 89.172 1,99
Seni dan Budaya

Aceh merupakan kawasan yang sangat kaya dengan seni budaya lazimnya wilayah Indonesia lainnya. Aceh mempunyai aneka seni budaya yang khas seperti tari-tarian, dan budaya lainnya seperti:

  • Meuseuke Eungkot (sebuah tradisi di wilayah Aceh Barat)
  • Peusijuek (atau Tepung tawar dalam tradisi Melayu)

Sastra

  • Bustanus Salatin
  • Hikayat Prang Sabi
  • Hikayat Malem Diwa
  • Hikayat Raja-raja Pasai
  • Hikayat Sultan Aceh Meureuhom (Sultan Iskandar Muda)
  • Hikayat Banun Setia
  • Hikayat Putroe Meulue
  • Hikayat Meurah Silu
  • Hikayat Putroe Lindong Buleuen
  • Hikayat Banta Amat Ngon Nahuda Seukeum
  • Hikayat Aulia Tujoeh
  • Hikayat Perang Aceh
  • Hikayat Pocut Muhammad
  • Hikayat Prang Cut Ali
  • Hikayat Putroe Hijoe
  • Hikayat Peureudan Ali
  • Hikayat Nun Parisi
  • Hikayat Nabi Ibrahim
  • Hikayat Nabi Jusuf
  • Hikayat Nabi Musa
  • Hikayat Nubeut
  • Hikayat Tajul Muluk
  • Hikayat Ranto Ngon Hikayat Teungku di Meukek
  • Hikayat Raja Bada
  • Legenda Amat Rhang Manyang
  • Legenda Putroe Neng
  • Legenda Magasang dan Magaseueng 

Senjata tradisional

Rencong adalah senjata tradisional bangsa Aceh, bentuknya menyerupai huruf L, dan bila dilihat lebih dekat bentuknya merupakan kaligrafi tulisan bismillah. Rencong termasuk dalam kategori belati.

Selain rencong, bangsa Aceh juga memiliki beberapa senjata khas lainnya, seperti sikin panyang, peurise awe, peurise teumaga, siwah, geuliwang dan peudeueng.

Rumah tradisional

Rumah tradisional Aceh dinamakan Rumoh Aceh. Rumah ini bertipe rumah panggung dengan 3 bagian utama dan 1 bagian tambahan. Tiga bagian utama dari rumah Aceh yaitu seuramoë keuë (serambi depan), seuramoë teungoh (serambi tengah) dan seuramoë likôt (serambi belakang). Sedangkan 1 bagian tambahannya yaitu rumoh dapu (rumah dapur).

Tarian

 
Tari Seudati di Sama Langa tahun 1907
 
Tari Saman dari Gayo Lues

Aceh yang memiliki setidaknya 10 etnis, memiliki kekayaan tari-tarian yang sangat banyak dan juga sangat mengagumkan. Beberapa tarian yang terkenal di tingkat nasional dan bahkan dunia merupakan tarian yang berasal dari Aceh, seperti Tari Rateb Meuseukat dan Tari Saman.

Tarian Aceh

  • Tari Laweuët
  • Tari Likok Pulo
  • Tari Pho
  • Tari Rabbani Wahed
  • Tari Ranup lam Puan
  • Tari Rapa'i Geleng
  • Tari Rateb Meuseukat
  • Tari Ratoh Duek
  • Tari Seudati
  • Tari Tarek Pukat

Tarian Gayo

  • Tari Saman
  • Tari Bines
  • Tari Didong
  • Tari Guel
  • Tari Munalu
  • Tari Turun Ku Aih Aunen

Tarian Alas

  • Tari Mesekat

Tarian Melayu Tamiang

  • Tari Ula-ula Lembing

Tarian Kluet

  • Tari Landok Sampot

Tarian Singkil

  • Tari Dampeng

Makanan Khas

 
Mi Aceh tumis dengan daging

Aceh mempunyai aneka jenis makanan yang khas. Antara lain TimphanGulai BebekKari Kambing yang lezat, Gulai Pliek U dan Meuseukat yang langka. Di samping itu Keurupuk Meuliëng asal Pidie yang terkenal gurih, Dodoi Sabang yang dibuat dengan aneka rasa, Bu Leukat Boh Driën (ketan durian), serta bolu manis asal Peukan Bada dan Ruti Samahani Aceh Besar juga bisa jadi andalan bagi Aceh.

Di Pidie Jaya terkenal dengan kue khas Meureudu yaitu Adè. Sedangkan di Aceh Utara lazim kita temukan kuliner khas lainnya yaitu Martabak Durian yang lezat. Kuliner Bireuen yang paling terkenal adalah Sate Matang yang merupakan sate daging sapi atau kambing yang dibakar yang pada awalnya berasal dari kota Matang Glumpang Dua.

Makanan khas Kota Langsa yang sangat terkenal hingga ke seluruh Indonesia adalah Sop Sumsum yaitu berupa sop tulang daging sapi yang berisi sumsum di dalam tulangnya dan tulang daging sapi tersebut telah dipotong untuk dapat dinikmati sumsumnya menggunakan sedotan atau menuangnya langsung ke atas piring. Sop Sumsum tulang daging sapi ini disajikan panas dengan potongan-potongan daging sapi yang diracik dengan sangat gurih dan lezat menggunakan racikan bumbu khas Aceh. Lalu ada Gulai Ikan Sembilang yang juga khas Kota Langsa.

Sedangkan di wilayah Kabupaten Aceh Singkil dan juga kota Subulussalam terdapat jenis camilan yang sangat digemari banyak orang. Makanan yang disebut dengan nama lompong sagu, sesuai namanya makanan ini berbahan dasar sagu yang dicampur dengan pisang, gula merah, dan garam. semua bahan tersebut kemudian dicampur, dan dibungkus dengan daun pisang, hampir mirip dengan lemper. setelah itu, dipanggang menggunakan kompor ataupun tungku. Makanan ini mudah ditemukan di wilayah Aceh Singkil maupun Subulussalam. Sementara kuliner khas Aceh yang juga sangat terkenal bahkan hingga ke mancanegara adalah Mi Aceh, sejenis mi kuning basah yang diracik dengan bumbu khas nan pedas.

Perekonomian Daerah

Pertambangan

Aceh memiliki banyak potensi bahan tambang dan mineral seperti minyak bumi, gas alam, emas, batubara dll. Cadangan total batubara di Aceh mencapai 476,80 juta ton yang tersebar di pesisir barat Aceh yaitu di kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya dan Singkil.

Perikanan

  • Lobster
  • Udang
  • Tuna
  • Cakalang
  • Tongkol
  • Bandeng
  • Udang
  • Lobster
  • Kerapu
  • Ikan nila
  • Mujair
  • dll.

Pertanian :

  • Kayu
  • Kopi[70]
  • Rempah-rempah
  • Buah-buahan
  • Sayur-sayuran
  • Kakao
  • Nilam
  • Pinang
  • Kelapa
  • Padi
  • Kemiri
  • Pala
  • Kelapa sawit
  • dll.

Perbankan

Aceh terdapat dua kantor Bank Indonesia, bank sentral Republik Indonesia, yang dibuka di Banda Aceh (kelas III) dan Lhokseumawe (kelas IV). Tugas Bank Indonesia yang terdiri dari bidang moneter, sistem pembayaran, dan perbankan. Di daerah-daerah tugas Bank Indonesia lebih dominan di bidang sistem pembayaran dan perbankan.

Di bidang sistem pembayaran menyelenggarakan sistem kliring dan BI-RTGS dan di bidang perbankan mengawasi dan membina bank-bank agar beroperasi dengan sehat dan menguntungkan. Sistem perekonomian berbasis Syariah saat ini sangat gencar dilaksanakan, apalagi Pemerintah Aceh telah mengubah Bank Aceh dari konvensional ke Bank Syariah.

Industri

Pada awal 2018 direncanakan akan dibuka Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe yang menyerap 40.000 tenaga kerja, Selain itu Aceh memiliki sejumlah industri besar di antaranya:

  • Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe
  • Kawasan Industri Aceh, Ladong
  • Badan Pengelola Migas Aceh
  • Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang
  • PT Arun NGL: Kilang Pencairan Gas Alam di Lhokseumawe
  • PT Pupuk Iskandar Muda (PIM): Pabrik Pupuk Iskandar Muda di Aceh Utara
  • PT Aceh Asean Fertilizer (AAF): Pabrik Pupuk Asean di Aceh Utara
  • PT Kertas Kraft Aceh (KKA): Pabrik Kertas di Aceh Utara
  • PT Semen Andalas Indonesia-Lafarge (SAI) : Semen Andalas di Aceh Besar
  • ExxonMobil: Kilang Gas Alam di Aceh Utara
  • PT. Perta Arun Gas, Lhokseumawe
  • PT. Pembangkitan Jawa-Bali (PJB), Lhokseumawe
  • PT. Medco E&P Indonesia, Aceh Timur
  • PT. Triangle Pase Inc., Aceh Timur
  • PT. Pertamina Hulu Energi, Aceh Utara
  • PT. MIFA Bersaudara, Aceh Barat.

Pra-tsunami 2004

Sebelum bencana tsunami 26 Desember 2004, perikanan merupakan salah satu pilar ekonomi lokal di Aceh, menyumbangkan 6,5 persen dari Pendapatan Daerah Bruto (PDB) senilai 1,59 triliun pada tahun 2004 (Dinas Perikanan dan Kelautan Aceh 2005). Potensi produksi perikanan tangkap mencapai 120.209 ton/tahun sementara perikanan budidaya mencapai 15.454 ton/tahun pada tahun 2003 (Dinas Perikanan dan Kelautan Aceh 2004). Produksi perikanan tersebut merata, baik di Samudra Hindia maupun Selat Malaka.

Industri perikanan menyediakan lebih dari 100.000 lapangan kerja, 87 persen (87.783) di sub sektor perikanan tangkap dan sisanya (14.461) di sub sektor perikanan budidaya. Sekitar 53.100 orang menjadikan perikanan sebagai mata pencaharian utama. Namun, 60 persen adalah nelayan kecil menggunakan perahu berukuran kecil. Dari sekitar 18.800 unit perahu/kapal ikan di Aceh, hanya 7.700 unit yang mampu melaut ke lepas pantai. Armada perikanan tangkap berskala besar kebanyakan beroperasi di Aceh Utara, Aceh Timur, Bireuen, Aceh Barat dan Aceh Selatan.

 
Kerusakan akibat tsunami di Banda Aceh

Menurut Nurasa et al. (1993), nelayan Aceh sebagian besar menggunakan alat tangkap pancing (hook and line). Alat tangkap lain adalah pukat, jaring cincin (purse seine), pukat darat, jaring insang, jaring payang, jaring dasar, jala dan lain-lain.

Infrastruktur penunjang industri ini meliputi satu pelabuhan perikanan besar di Banda Aceh, 10 pelabuhan pelelangan ikan (PPI) utama di 7 kabupaten/kota dan sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) kecil di 18 kabupaten/kota. Selain itu terdapat 36.600 hektare tambak, sebagian besar tambak semi intensif yang dimiliki petambak bermodal kecil. Tambak-tambak ini tersebar di Aceh Utara, Pidie, Bireuen dan Aceh Timur.

Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Indonesia mengelola sebuah pusat pendidikan dan latihan (Pusdiklat) budidaya, sebuah pusat penelitian dan pengembangan (Puslitbang) budidaya, sebuah laboratorium uji mutu perikanan dan sebuah kapal latih. Di tiap kabupaten/kota, terdapat dinas perikanan dan kelautan. Total aset di sektor perikanan pra-tsunami mencapai sekitar Rp 1,9 triliun.

Pasca-tsunami 2004

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas (2005) memperkirakan 9563 unit perahu hancur atau tenggelam, termasuk 3969 (41,5%) perahu tanpa motor, 2369 (24,8%) perahu bermotor dan 3225 (33,7%) kapal motor besar (5-50 ton). Selain itu, 38 unit TPI rusak berat dan 14.523 hektar tambak di 11 kabupaten/kota rusak berat. Diperkirakan total kerugian langsung akibat bencana tsunami mencapai Rp 944.492,00 (50% dari nilai total aset), sedangkan total nilai kerugian tak langsung mencapai Rp 3,8 miliar. Sebagian besar kerugian berasal dari kerusakan tambak.

 
Kapal PLTD Apung yang dibawa oleh tsunami sampai ke darat

Kerusakan tambak budidaya tersebar merata. Bahkan di daerah yang tidak terlalu parah dampak tsunaminya (misalnya di Kabupaten Aceh Selatan), tambak-tambak yang tergenang tidaklah mudah diperbaiki dan digunakan kembali. Total kerugian mencapai Rp 466 miliar, sekitar 50 persen dari total kerugian sektor perikanan. Kerugian ekonomi paling besar berasal dari hilangnya pendapatan dari sektor perikanan (tangkap dan budidaya). Hilangnya sejumlah besar nelayan, hilang atau rusaknya sarana dan prasarana perikanan termasuk alat tangkap dan perahu serta kerusakan tambak menjadikan angka kerugian sedemikian besarnya.

Diperkirakan produksi perikanan di Aceh akan anjlok hingga 60 persen. Proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu paling sedikit 5 tahun. Di subsektor perikanan tangkap, bahkan diduga perlu waktu lebih lama (sekitar 10 tahun), karena banyaknya nelayan yang hilang atau meninggal selain rusaknya sejumlah besar perahu atau alat tangkap. Berdasarkan asumsi tersebut, total kerugian yang mungkin terjadi hingga sektor ini pulih total dan kembali ke kondisi pra-tsunami diperkirakan mencapai Rp 3,8 triliun.

Pariwisata

Destinasi wisata

  • Pulau Rubiah
  • Tugu Nol Kilometer
  • Pantai Iboih
  • Burni Telong, Bener Meriah
  • Danau Laut Tawar, Aceh Tengah
  • Danau Aneuk Laot
  • Pantai Lhoknga, Aceh Besar
  • Guha Tujoh di Laweueng
  • Lapangan Merdeka Kota Langsa
  • Lingkok Kuwieng, Pidie
  • Taman Nasional Gunung Leuser
  • Taman Hutan Kota Langsa
  • Hutan Mangrove Kota Langsa
  • Taman Bambu Runcing Langsa
  • Taman Bustanussalatin
  • Pulau Teulaga Tujoh
  • Gedung Balee Juang
  • Bukit Goa Jepang, Lhokseumawe
  • Waduk Jeulikat, Lhokseumawe
  • Gunung Salak, Aceh Utara
  • Blang Kulam, Aceh Utara
  • Pantan Terong, Aceh Tengah
  • Pacuan Kuda, Gayo
  • Pantai Jangka, Bireuen
  • Pantai Manohara
  • Pantai Lancok, Aceh Utara
  • Patai Kuala Raja, Birueun
  • Pantai Ujong Blang, Lhokseumawe
  • Pantai Ulee Reubek, Aceh Utara
  • Pantai Bantayan, Aceh Utara
  • Objek Wisata Ketambe, Aceh Tenggara.
  • Pantai Cemara Indah, Gosong Telaga, Singkil Utara, Singkil
  • Kepulauan Banyak, merupakan gugusan pulau-pulau kecil di kabupaten Aceh Singkil
  • Wisata Tapak Tuan Tapa, Tapak Tuan, Aceh Selatan
  • Pasi Jantang Lhoong

Objek bersejarah

 
Kuburan Kerkhoff
  • Masjid Raya Baiturrahman
  • Masjid Tua Indrapuri
  • Masjid Tua Linge
  • Benteng Anoi Itam
  • Benteng Indra Patra
  • Benteng Kota Lubok
  • Istana Benua Raja
  • Istana Raja Seruway
  • Istana Karang
  • Komplek Kuburan Kerkhoff Peucut
  • Komplek Makam Kesultanan Samudera Pasai
  • Makam Habib Bugak
  • Makam Putroe Neng
  • Makam Sultan Iskandar Muda
  • Makam Tun Sri Lanang
  • Mercusuar Willem's Toren III
  • Monumen dan Museum Islam Samudera Pasai
  • Monumen Radio Rimba Raya
  • Museum Aceh
  • Museum Tsunami Aceh
  • Pendopo Gubernur Aceh
  • Peninggalan Kerajaan Linge
  • Rumah Cut Nyak Meutia
  • Rumoh Aceh
  • Sentral Telepon Militer Belanda
  • Situs Purbakala Loyang Mendale
  • Taman Putroe Phang
  • Taman Sri Ratu Safiatuddin 
  • Makam Syekh Abbur Rauf
Transpotasi

Perhubungan darat umum di Aceh dapat dijangkau dengan bus dan minibus. Setiap kabupaten dan kota di Aceh memiliki terminal. Jalur tol yang sudah dibangun adalah jalur Banda Aceh-Sigli.

Transportasi laut

Berikut ini merupakan daftar pelabuhan-pelabuhan yang ada di Aceh :

  1. Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar.
  2. Pelabuhan Internasional Samudera Pasai, Krueng Geukuh, Aceh Utara.
  3. Pelabuhan Internasional Langsa
  4. Pelabuhan Arun, Lhokseumawe
  5. Pelabuhan Internasional Sabang
  6. Pelabuhan Internasional Aceh Tamiang
  7. Pelabuhan Ulèë Lheuë, Banda Aceh.
  8. Pelabuhan Jetty, Meulaboh.
  9. Pelabuhan Ferry Labuhan Haji, Aceh Selatan.
  10. Pelabuhan Sinabang, Simeulue.
  11. Pelabuhan Ferry Singkil, Aceh Singkil.
  12. Pelabuhan Ferry Susoh, Aceh Barat Daya.
  13. Pelabuhan Teluk Surin, Aceh Barat Daya.

Transportasi udara

Berikut ini merupakan daftar bandar udara yang ada di Aceh :

  1. BTJ - Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar MudaAceh Besar
  2. LSW - Bandar Udara MalikussalehAceh Utara
  3. MEQ - Bandar Udara Cut Nyak DhienNagan Raya
  4. SNB - Bandar Udara LasikinSinabang
  5. SBG - Bandar Udara Maimun SalehSabang
  6. TXE - Bandar Udara RembeleBener Meriah
  7. SKL - Bandar Udara Syekh Hamzah FansyuriSingkil
  8. TPK - Bandar Udara Teuku Cut AliTapaktuan
  9. LSX - Bandar Udara LhoksukonAceh Utara

Stasiun kereta api

Sejarah awal Kereta Api di Aceh sudah dimulai sejak era kolonial Belanda. Pada tahun 1876 KNIL mulai membangun jalur kereta Api Aceh atau saat itu dikenal dengan Atjeh Tram yang mulai beroperasi dari tahun 1882 hingga 1942 dan sempat berubah namanya menjadi Atjeh Staatsspoorwegen (ASS) pada tahun 1916. Saat ini Kereta Api Aceh berada dibawah PT. Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatra Utara dan AcehKereta Api Cut Meutia (sebelumnya bernama Kereta Api Perintis Aceh) adalah kereta api yang melayani perjalanan Stasiun Krueng Geukuh - Stasiun Kutablang.

Berikut ini merupakan daftar Stasiun Kereta Api yang ada di Aceh :

  1. (KRG) - Stasiun Krueng Geukueh
  2. (BKH) - Stasiun Bungkaih
  3. (KRM) - Stasiun Krueng Mane
  4. (GRU) - Stasiun Geurugok
  5. (KKG) - Stasiun Kutablang
DAFTAR KABUPATEN KOTA YANG TELAH BERGABUNG
958996
TodayToday2731
YesterdayYesterday7841
This_WeekThis_Week47186
This_MonthThis_Month89358
All_DaysAll_Days958996
PIDII (Pusat Informasi Data Investasi Indonesia) dalam Sosial Media